Kebiasaanku ketika menulis adalah
menghabiskan waktu bersama laptop dan hanphone ku di cafe atau tempat lainnya
yang nyaman untuk aku menulis. Kadang aku suka nangkring di warung bule asih,
kadang suka ngangkring dirumah icung, kadang juga suka ngehabisihin waktu di
kantor. Dimana-mana yang membuat aku
lama untuk pulang kerumah. Rasanya mlas sekali merubah posisi jika sudah
berhadapan dengan laptop . sukanya sama laptop sih dari dulu sampai sekarang.
Sampai-sampai sering dikatakan jones. Oh no, itu sebutan teman-temanku, karena
memang aku sudah lama tidak menjalin asmara dengan siapapun bukannya gak laku
tapi lebih tepatnya menjaga. Tentunya aku tidak mau salah pilih lagi untuk
menjatuhkan hati.
5 tahun yang lalu...
aku termasuk orang yang sulit
untuk jatuh cinta karena mendengarkan betapa merepotkan ketik ajatuh cinta. Dan
aku tidak ingin mendaptkan kerepotan tersebut. jadi setiap kalai ada yang
mengajakku untuk menjalin asmara aku selalu meolaknya dengan alasan yang sama
“aku tidak mau pacaran”. Selain itu pacaran kan memang tidak di bolehkan karena
bisa saja nanti akan berujung pada Zina, aku tidak mau melakukan hal yang Allah
tidak suka. Tidak peduli bagaimana pendapat orang yang penting itu pendirianku.
Hingga suatu ahari aku bertemu
dengan sang kacamata hitam. Selain kacamatanya yang hitam, orangnya juga tidak
terlalu putih (oke itu rasis, bukan maksud rasis tapi aku hanya menyebutkan
ciri-cirinya), dia memakai kemeja biru navy, dengan celana levis, membawa tas
ala armynya itu dan dia tinggi sekali kayak raksasa. (mungkin memang aku yang
kecil ) . Wah gagah ya kayaknya, tapi
saat dia tersenyum. Dar....!!
Jantungku bedebar dengan
kecepatan tinggi. Stop ! stop ! aku mencoba menenangkan pikiranku, kok bisa sih
orang macam ini bikin jantung mau copot. Siapa sih orang ini. Aku bertemunya di
kedai kopi biasa aku nangkring kalau malam minggu, kebetulan setiap malam
minggu memang aku biasa disitu. Ini namanya pembajakan, kenapa da bisa bikin
jantung mau copot dan pikiranku teralihkan. Aku mencoba menenangkan diriku
setenang-tenangnya. Jangan sampai dia tau bahwa jantungku copot matilah aku.
Aku ga tau siapa tu orang , yang
malam itu bikin jantung ku mau lepas, bikin debaranjantungku makin ga karuan.
Pulang dari kedai kopi tersebut aku memikirkannya. Ternyata dia tidak span ya, sudah bikin
jantung mau copot sekarang malah menganggu pikiran lagi. Aku memutuskan untuk
segera tidur setelah pulang dari sana. Dan dalam mimpi aku bertemu lagi.
Pagi hari yang cerah dengan udara
yang mulai terkotori oleh kenalpot orang-orang kota yang mungkin jarang
dibersihkan karena mereka sibuk, aku bangun dan segera menyiapkan diri untuk
olahraga. Karena aku adalah makhluk yang mudah terserang penyakit pilek dan
batuk atau lainnya aku harus menjaga badanku agar tetap bugar dengan menjaga
pola olahragaku. Setelah siap aku pun berlari-lari kecil kelling kompleks
sambil mendengarkan lagu kesukaan ku.
Baru satu keliling putaran aku
sudah ngos ngosan kayak habis ngejar maling keliling kampung (kampung kadang
lebih besar ya daripada kompleks perumahan). Aku pun memutuskan untuk berhenti
istirahat dan minum air yang aku bawa. Saat itu aku melihat sosok yang
berkacamata dan tinggi besar. Tidak aku bertemu raksasa, bukan ini kayaknya
bapaknya raksasa. “kayaknya kenal” ternyata setelah diingat-ingat orang ini
adalah pembajak yang membuat jantungku mau lepas semalam dan dengan tidak
spannya dia bertamu dalam mimpiku.
“hay mba ” sapanya. Ih sapa dia
nyapa-nyapa pikirku. Aku hanya senyum dan berbalik arah untuk kembali
kerumahku. Kalau aku lanjutkan berlari mungkin aku akn bertemu lagi dengannya. Siapa
gerangan orang itu , ah bodo amat yang penting aku pulang dan ga bertemulagi
dengan dia pikirku.
Karena takut akan jantungku lepas
beneran kalau ketemu lagi sama raksasa itu, aku pun jarang ke kedai lagi.
Menjaga-jaga agar hati takterlena. Aku sempat bercerita kepada temanku yang
menjaga kedai tersebut. ternyata itu adalah temannya, dan raksasa itu juga
menanyakan kontak ku kepada temanku. Dengan baik hatinya temanku dia kasih kan
lah kontakku ke raksasa tersebut. duh pintar memang temanku satu ini . aku
tidak akan kesana lagi untuk beberapa hari kedepan.
Keesokkan harinya, ada yang
ngechat aku via line. Tadaaaaa siapakah ini, dengan berhati-hati aku pun
melihatnya pesannya. Membuka dengan perlahan-lahan siapakah gerang yang
mengechat aku. Dan ternyata, itu chat promopaid -_- its asem jeneng nge...
“tung.. tung.. tung...”
Siapa lagi yang ngechat aku ,
kalau sampai paid promot ku block memang. Gerutuku dalam hati.
Dew.
Dedew.
Dew.
Dedew.
Wah siapa ini, yang ngechat, aku
pun melihat nama di line tersebut “dies treya”
Yo. Sopo iki ?
Aku temannya dika yang jaga kedai kopi pinggir kali . tempat biasa kamu
dinner bareng laptopmu wkwk
Oh . ada apa?
Ga ada apa-apa.
Ya sudah, kalau ga ada kepentingan mending ga usa ngechat
Neng jangan suka marah-marah nanti cepat tua.
Iya . bawel.
Makasih uda dipanggil bawel
Rese ya lu.
Wkwkwkwk
Orang aneh, kenapa orang ini
bikin deg degan aja. Padahal gak ketemu orangnya. Padahal cuman di chat aja.
Terus kenapa jga dia ngechat . kayak tuyul aja datang ga di undang pergi juga
siapa yang mau ngantar, aku mah ogah pikirku. Aku pun nge-block pertemanan di
line dengan dia. Bukannya tidak mau berteman, aku hanya menyelamatkan jantungku
yang terus berdebar ga karuan, aku juga menyelamatkan pikiranku yang mulai
kacau balau karena dia.
Hari-hari aku lalui dengan
indahnya, tanpa ada dia yang menganggu. Dia yang sebenarnya aku masih penasaran
siapa dia dan dari mana asalanya. Apakah benar dia adalah titisan raksasa dari
langit atau dia adalah bapak raksasa seperti dugaan ku.
“kenapa sih wi ga coba kenalan
dan jadi teman aja. Lu boleh aja nutup diri lu tapi ga juga sampe ga mau
berteman gitu”
“ah males aku. Dia sudah ga span
sama aku”
“ga sopan kenapa?”
“dia masuk dalam mimpiku, terus
senyumnya bikin jantung mau copot dan aku Cuma chatan sama dia aja mau lari
rasanya ini jantung debarnya ga henti-henti. Ya lah ga henti kalau henti mati
aku”
“umeee leh, wah jangan-jangan
kaujatuh ciintaaaa”
“ah . no no no. Sama dia. Biar
kada lah”
“hahaha ya uda beteman aja kali
sama dia wi”
“ya oke bener juga kata lu, kan
dia mau beteman aja bukan mau deketin gua wkwwkkw”
Karena percakapanku dengan dika
saat di cafe aku pun memutuskan untuk membuka block message di line. Labil
memang aku ini kayak anak abg, tapi emang gua abg wkwkkw.
Dan semenjak hari itu aku pun
sering chat bareng dia walaupun kadang aku suka senyum ga jelas kalau selesai
chat dengan dia. Kayak ada satu bunga yang mekar setiap dia ngechat aku. Ya
kali ini namanya jatuh hati, untung bukan jatuh jantung kalaujantungku yang
lepas mati mungkin sudah sekarang. Semanjak hari itu juga aku mulai berani
menyapanya juga, walaupun bisa dihitung berapa kali aku menyapanya selebihnya
aku hanya senyum saja. Aku juga sering bertemu dengannya di kedai dika. Kadang
kami satu tempat duduk dan kadang dia menemani ku selama aku mengetik naskah.
Dan dia juga yang sering memberikan ide untuk naskahku.
Semakin hari kami semakin dekat
sampai suatu ketika dia menanyakan kepadaku apakah aku mau menjadi kekasih
hatinya. Rasanya kayak duk ! ketabrak dinding yang besar banget, rasanya sakit,
rasanya kayak mimpi, tapi ini bukan mimpi. Dan aku tetap pada pendirianku.
“sory aku belum mau pacaran hehe” itu lah jawabanku . berat memang menjawabnya
, namun aku tidak mau mengingkari pendirian ku selama ini. Dan setelah aku
bicara itu dia tetap menjadi dia, ga berubah menjadi monster yang badanya ijo
semua lalu mengamuki kota, enda dia bukan orang seperti itu. Kami tetap
berteman dan dekat seperti biasanya. Namun kedekatan itu mulai jarang jarang
kayak sisir yang giginya pada patah.
Kita jarang mengchat satu sama
lain, aku yang gengsi untuk mengechatnya. Pernah aku mengchatnya, hanya mau tau
kabarnya tapi cuman laporan telah dibaca saja yang aku dapatkan . yah
seenggaknya dia baca sudah chatku. Dan mulai dari saat itu aku pun tidak mau
menghubunginya terlebih dahulu. Selain
line aku tidak memiliki akun sosial medianya yang lainnya. Anehnya ketika aku
follow instagramnya dia sama sekali tidak pernah mengacceptnya. Mungkin itu
karena dia jarang buka, dulu dia pernah bercerita bahwa dia jarang membuka
sosmed. Ya okelah gapapa, toh bumi ga akan berubah kalau dia ga accept aku.
Tapi lama kelamaan teman-temanku
memberitahukan bahwa dia, berteman dengan teman ku di instagram. Aneh memang
dia, mungkin belum waktnya untuk meng-accept akunku . temanku juga balas
linenya lancar saja. Aku pernah juga ngechat dia terus temanku ngechat alhasil
teman ku dibalas aku pun tidak. Rasanya cekat cekit kayak di tusuk jarum pentul
yang kecil kecil tu . kenapa orang ini pikirku, apa gara-gara aku tolak. Biar
saja lah.
Aku hanya temannya saja, mau dia
hubungi aku atau tidak itu urusannya pikiranku. Selama dia tak curi nafasku aku
masih bisa hidup dan aku gak apa-apa tanpa dia. Kadang-kadang dia mencoba
menghubungiku dan aku pun berusaha untuk tidak dekat lagi , membalas seadanya.
Walaupun terlihat jutek atau apalah namanya, aku tidak peduli, aku tidak mau
terlalu jauh jatuh hati dengannya. Aku sadaraku jatuh hati dengan raksasa yang
ada di kedai, tapi aku juga ga bisa mengingkari pendirianku untuk berpacaran.
Aku menyayangi hanya saj aku tak mau menjadikannya pacar.
Hari-hari berlalu seperti biasa,
pertemuanku dengannya pun bisa dibilang sudah mulai jarang. Suatu ketika dika
meminjamkan handphonenya dan memintaku untuk stalking. Memang dika ini raja nya
stalking makanya dia tau sama siapa sekarang pacarnya sedang apa suka apa acarnya
karena keahlian stalkingnya sudah tak tertandingi lagi. Mungkin kalau ada lomba
stalking dia ikut dan menjadi juaranya.
“nih hape ku , sono stalking si
dies. Raksasa kesayangan lu tuh”
“ga ah”
“yakin ga mau?”
“eh jangan hehehe sini sini hape
mu. Uh senang nya sama dika ini teman baek emang kamu yah tau aja aku emang mau
stalking”
Dengan hati-hati aku pun mulai
berseluncur ke instagram dengan menggunakan akun dika aku pun mulai menyelam.
Scrol scrol mencari nama ig dies. Scrollll....... kebawah
Dan ketemu !
Nama akunnya diestreya.
Hebat memang aku . pikirku.
Padahal si dika kan emang sudah berteman di ig sama raksasa ini sejak lama. Aku
melihat foto-fotonya. 3 foto pertama fotonya dengan teman-temannya. 3 foto
berikutnya isinya tentang usahanya, ya dia pernah bercerita soal usahanya itu.
3 foto berikutnya dan aku scrol lagi kebawah – ke bawah. Dan duk. !! kepalaku
kena balok besar dan darah segar pun mengalir dengan derasnya . bukan ! aku
bukan sedang di pukuli orang sekampung atau sedang dalam adegan perampokan atau
penculikan.
Aku melihat fotonya dengan
perempuan , ah mesranya. Melihatnya biki
sakit kepala dan bikin darah mengalir dengan derasnya. Melihat foto tersebut
membuat mata ini menghidupkan mode kacanya. Kebawah dan semakin kebawah aku melihat
lagi foto perempuan yang dia unggah. Dan, akhirnya kaca yang ada di mataku
pecah berubah menjadi air yang mengalir dengan seenaknya saja. Loh aku kenapa?
Aku sendiri tidak tau dan aku pun mulai berhenti melihat akunnya dan aku segera
mengembalikan handphone dika, takut kalau nanti hapenya konslet karena air mata
manusiaku ini.
“sudah dew?”
“uda. Aku bulik dolo lah”
“kamu kenapa?”
“gak apa-apa”
Dan aku pun pulang dengan
perasaan kacau. Ternyata, begitu dia. Ternyata dia sudah ada yang punya dan
selama in idia menghubungiku karena dia sedang tidak bersama kekasihnya. Aku
kira dia bercanda bahwa dia di jodohka. Dan malam itu menjadi malam panjangku
untuk meruntuk sesedhnya.
Keesokkan harinya aku menjalani
rutinitasku seperti biasanya. Aku bukan macam abg yang kalau patah hati gak mau
melakukan kegiatan apa-apa. Aku memang sedang sakit tapi aku gak mau badanku
ikut sakit juga. Seperti biasa aku mulai berlari keliling komplek perumahan.
Sudah beberapa kali putaran aku tidak merasa kelelahan entah karena apa. Saat
berlari aku melihat samar-samar orang yang berkacamata dengan badan yang besar,
yah itu dies. Setelah menyadari keberadaannya yang berada di depanku, akupun
mencari tempat persembunyian . untung saja badanku tidak terlalu besar untuk
mencari tempat persembunyian. “kenapa aku kayak begini sih -_-” gerutuku. Aku
berusaha menjauhinya. Untungnya saja dia memang jarang menghubungiku. Kalaupun
menghubungi pastinya aku jarang membalas.
“tung.. tung...”
Dew, sory yah aku ga tau kalau dies punya cewe. Aku malah nyuruh kamu
stalking dia sory ya dew. Kamu baik aja kan .
Ternyata dika ngechat aku.
Sebenarnya bukan salah dika.
Santai aja dik. Hahah aku gak apa-apa . selama bumi ini ga hancur aku
gak apa-apa. Yang waktu itu aku akting aja, soalnya aku kan mau jadi artis
india gitu , nangis sambil belarian wkwkw
Ya ampun dew, kamu ini aneh aneh aja. Ya uda semangat aja. Ga usa
dipikirn lagi toh jodoh ga kemana. Cowo juga ga cuman satu oke.
Terharu
sekali dengan dika ini. Untungnya masih
ada dika yang mengsupport aku. Setelah kejadian itu aku pun menjauhinya. Dan
bertekad agar tak lagi salah jatuh hati. Aku percaya sesuatu yang menjadi
milikku pasti akan kembali padaku. Sedangkan yang bukan untukku tak akan dekat
denganku.
Setelah kejadian 5 tahun yang
lalu tersebut aku pun sering menolak ajakan untuk menjali kasih . bukannya
tidak normal hanya saj amemang aku tidak sanggup untuk berirama lagi dengan
hati, atau mengatur lagi detak jantung yang ga karuan. Tapi memang dengan
raksasa saj aaku merasakan sakit dan manisnya ketika jatuh cinta. Mungkin
memang setiap orang di takdirkan untuk memberi atau diberi pelajaran. Dan
mungkin itu lah yang terjadi kepadaku.
Dies sang bapaknya raksasanya dan
aku kurcacinya mungkin memang bukan jodoh. Aku sudahmulai menyerah dengan
menutup hati untuk menunggunya. Dulu aku percaya kalau jodohnya untukku
pacarnya mau apa, tapi setelah sekian lama ini aku mulai menyerah. Menyerah
untuk menunggunya. Tugasku hanya melakukan hal yang terbaik yang aku bisa serta
berdoa dengan tulus. Dan belajar menerima. Menerima bahwa aku sudah kalah dan
tidak memiliki sesuatu. aku juga mulai memahami di semesta ini jika memang itu
bukan milikmu bagimanapun kau menanti atau mekasanya itu tak akan mengubah
apapun. Beberapa hal hanya dikenalkan untuk disebut sebagai masa lalu.
Comments
Post a Comment