Karena jodoh adalah kuasa Allah



“seseorang yang layak diperjuangkan bukan dia yang tak pernah memberi kesedihan, tapi dia dengan segala kekurangan dan kelebihan membawa kita semakin mendekati-Nya”

Aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat, yang tak pernah terduga. Di cafe tempat aku biasa bekerja. Aku sudah bekerja sejak kuliah di mulai. Ya aku bekerja karena tuntutan , tipe seperti aku akan sangat susah untuk mencari pekerjaan karena aku seorang yang pemilih. Awalnya aku ragu untuk bekerja di cafe karena aku tau banyak sekali tantangan dan tuntutannya bekerja di cafe yang dominan dengan laki-laki. Untungnya aku dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan aku untuk menjaga diri jadi aku tidak takut bekerja ditempat yang dominan laki-laki. Aku juga tau Allah Maha Pelindung. Apapun yang aku kerjakan mestinnya untuk beribadah padaNya, untuk membantu meringankan beban orang tuaku.
Saat aku bekerja aku bertemu dengan banyak tipe orang jadi sikapku pun juga menyesuaikan. Alhamdulillah teman-teman di tempat kerja selalu menjaga dan melindungiku. Kebetulan memang akulah yang paling muda diantara yang lainnya. Aku bekerja mulai dari sore hingga tengah malam. Melelahkan memang tapi ini semua untuk membantu meringankan beban orangtuaku. Mengingat keadaan ekonomi dikeluargaku memang serba cukup tapi aku senang sekali karena Allah selalu melimpahkan Kasih sayangNya kepada keluargaku.
Saat pagi hari hingga siang aku kuliah, menjalankan rutinitas seperti biasa di kampus. Banyak yang beranggapan tidak baik ketika mereka tau bahwa aku kerja di cafe. Menurut mereka aku tidak pantas kerja di cafe yang dominan laki-laki dan pulang malam. Menurut mereka pekerjaan seperti itu hanya untuk perempuan-perempuan nakal. Aku tau tidak sedikit yang berpikiran bahwa aku perempuan nakal tapi aku tidak peduli dengan mereka yang mencemooh atau berpikiran buruk tentangku, yang aku tau Allah lah yang Maha Mengetahui, Dia tahu mana yang baik untukku mana yang tidak. Kalaupun ini tidak baik untukku pasti aku akan dijauhi dari hal yang buruk.
Saat aku bekerja aku sering bertemu dengan seseorang yang selalu sendiri. Dia selalu memesan capucino untuk menemaninya. Kadang dia datang mulai dari cafe dibuka hingga di tutup. Kadang dia bertemu dengan beberapa temannya. Kadang dia hanya sendirian dengan laptopnya. Entah apa yang membuatku selalu memperhatikannya mungkin karena kebetulan saat dia datang aku lah yang mengantarkan pesanannya.
Aku tidak peduli dengannya, dia hanyalah seorang pelanggan yang sama dengan yang lainnya. Jadi aku tidak perlu memperhatikannya terlalu dalam atau mempertanyakan siapakah dia. Tapi aku kadang penasaran kenapa dia selalu datang dan dia hanya sendirian. Tapi aku tidak tahu bagaimana kehidupannya, mungkin saat di cafe dia sendirian tapi mungkin saja saat diluar dia tidak sendirian .
Pernah suatu ketika dia tidak datang ke cafe selama 1 bulan. Entah aku yang tidak tau dia datang atau karena memang dia tidak ada. “semoga Allah selalu melindungimu”. Entah siapa dia aku tidak mengenalnya namun terkadang aku berdoa untuknya, walaupun aku tidak menyebutkan namanya saat berdoa tapi aku yakin Allah tahu untuk siapa aku berdoa.
Setelah 1 bulan dia tidak muncul di cafe, bulan-bulan berikutnya dia pun tidak datang, dan aku pun mulai tidak mengingat tentang dia lagi. Dia yang selalu identik dengan laptopnya dan capucino yang menemaninya.
Menjelang semester 6 aku memutuskan untuk berhenti bekerja, aku rasa tabunganku untuk mengurus kkp dan skripsi dalam setahun kedepan sudah mencukupi. Aku ingin fokus pada kuliahku. Alhamdulillah teman-teman dicafe mengerti akan keadaanku. Jadi mereka memakluminya.
Awal menjelang semester 6 aku disibukkan dengan beribun tugas yang menanti untuk aku kerjakan. Serta kertas-kertas bimbingan yang mulai menyusul. Sedikit demi sedikit aku mengerjakan apa yang harus aku kerjakan. Selain kuliah dan mengurusi bimbingan untuk kkp aku juga kadang di minta untuk menjadi mc untuk sebuah acara talkshow. Dan pada acara tersebut aku bertemu dengan pematerinya.
Sekali dua kali aku memperhatikan wajah sang pemateri, sepertinya aku mengenalnya, entah dimana dan siapa. Hingga akhirnya pemateri tersebut menyebutkan namanya “perkenalkan nama saya Andyta, kalian bisa panggil saya kak ta”. Itulah perkenalan singkat saat acara talkshow mulai. Selama acara aku hanya memikirkan siapa  dia dan aku bertemu dimana. Aku tidak bisa mengingatnya, mungkin memang hanya khayalanku saja.
Diakhir acara kak ta memanggilku.
“hai mba? Siapa namanya?”
“siapa kak? Saya kah?”
“iya mba, siapa lagi? Mba yang bekerja di cafe puncak itu kan?”
“heh? Mungkin kak ta salah orang. Saya sudah tidak bekerja disana lagi”
“tidak, saya tidak salah orang. Saya yang sering memesan capucino mba yang duduknya di pinggiran dan suka sendirian hehe”
“he? Oh yang itu yaya saya ingat, saya sudah tidak bekerja disana”
“hehe oh gitu”
“ya sudah ya kak saya tinggal dulu”
“eh mba, siapa namanya?”
“oia, nama saya tya, septya”
Dan aku pun berlalu begitu saja, aku tidak bisa berdiri lama-lama berbicara dengan kak ta, ada yang berbeda saat aku berbicara dengannya. “Ya Allah kau yang Maha Membolakbalikkan hati ini , teguhkanlah hatiku diatas agamamu”. Aku tidak boleh jatuh cinta kepada sembarang orang apalagi kepada orang yang baru aku temui. Tapi alhamdulillah akhirnya aku tau namanya. Kak ta. Ya, ternyata ingatanku tak payah. Aku berusaha untuk tidak peduli meski detak jantungku terus berdebar-debar jika mengingat namanya. Hanya mengingat namanya, apalagi tadi setelah acara aku bertemu dan berbicara dengannya. Aku harus menjauhinya sejauh-jauhnya pikirku. Untung saja dia tidak satu kampus dengan ku, hanya kebettulan saja dia menjadi pemateri diacara talkshow tersebut.

Setelah dari acara tersebut aku fokus mengurusi bimbingan untuk kkp dan menyiapkan bahan untuk maju kkp. Hari-hari aku lalui dengan banyaknya kertas bimbingan dan persiapan untuk maju kkp. Sudah tak sabar rasanya ingin segera lulus dan kerja lagi. Dengan doa dan kerja keras bergadang terus tiap malam untuk menyelesaikan program dan persiapan untuk maju kkp. Akhirnya hari untuk maju kkp pun sudah didepan mata. Aku pun maju dengan perasaan berdebar-debar, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Tidak ada halangan yang terlalu menyulitkan.
Suatu hari aku sedang membuka akun sosial mediaku yang mulai berdebu karena jarang aku sentuh. Memang aku jarang membukanya kalau tidak ada keperluan. Apalagi sekarang lagi sibuk-sibuknya menyiapkan skripsi. Aku membuka akun instagramku. Ku liat beranda yang dipenuhi dengan foto-foto teman-temanku, adapun foto yang tidak aku kenal entahlah siapa itu aku tidak peduli. Ada  juga beberapa kata-kata motivasi yang menghiasi instagramku. Ku mulai mengscorll kebawah dan kebawah. Sejenak aku berhenti menemukan sebuah foto, foto seorang perempuan dengan , entah siapa ini . familiar sekali wajahnya pikirku. Fotonya mereka sedang duduk berdua, perempuan tersebut terlihat dewasa, dan laki-laki disebelahnya sepertinya aku mengenalnya. “ini kak ta” , ya memang ini kak ta orang yang sempat membuatku berdebar-debar. Dan kini aku masih berdebar-debar. Aku tau dari perawakannya, dari kacamatanya , dari matanya. Ini memang orang yang aku kenal. Sedikit sesak rasanya melihat fotonya bersama perempuan lain. Mungkin ini perempuannya mungkin juga keluarganya adiknya atau kakaknya. Entahlah siapanya ini. Foto mereka terlihat mesra.
Dengan dada yang masih terasa sesak , aku mencoba untuk membuka foto tersebut. Aku melihat banyak komentar yang menghiasi foto tersebut. Ada yang mengatakan “pacar lima langkah” komentar itu langsung saja membuat aku tertusuk. Sakit rasanya, padahal aku tidak mengakui bahwa aku memiliki perasaan terhadapnya, peduli apa aku dengannya dia buka siapa-siapa juga, tapi kenapa sakit, entahlah. Aku melihat lagi komentar-komentar tersebut, beberapa orang yang berkomentar adalah teman ku juga. 
Segera ku tutup akun instagramku. Entah kenapa ini sakit sekali rasanya. Padahal aku tidak berniat memiliki perasaan terhadapnya. “Ya Allah, biarkanlah yang baik mendekati yang baik, yang baik menjauhi yang buruk. Semua pasti ada alasannya aku percaya ini.”.  aku harus menjauhkan diri dari segala apapun yang menganggu pikiran ku. Dan aku mulai fokus lagi untuk menyelesaikan skripsiku.
Mudahnya aku mengalihkan perhatianku lagi untuk fokus terhadap skripsiku lagi setelah merasa sesak. Mungkin memang benar kita tidak perlu terlalu menyukai seseorang, karena jika sudah benar menyukai kau akan kesulitan sendiri. Terimakasih Ya Allah....
4 bulan kedepannya aku menyelesaikan skripsiku. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang telalu menyulitkan, aku tau semua ini berkat pertolonganNya.  Setelah menyelesaikan masa-masa skripsiku aku pun mencari pekerjaan lagi. Sebenarnya aku bisa saja bekerja ditempat lama, namun tempat itu hanya mengingatkan aku padanya orang yang tidak ingin aku ingat. Aku pun mencari pekerjaan lain.
Beberapa hari aku mencari pekerjaan akhirnya aku menemukan pekerjaan yang pas dengan ku. Aku menjadi guru pengajar di sebuah yayasan . alhamdulllah pekerjaan ini lebih mudah daripada kau bekerja di cafe, aku tidak pulang terlalu malam dan pegawai disini dominan dengan ibu-ibu yang sudah berumah tangga. Di tempat aku mengajar aku juga belajar, belajar segala macam untuk memperdalam ilmu agamaku. Aku tau masa laluku sangat kelam, dan aku ingin berhijrah tidak hanya hijrah namun juga istiqomah dijalanNya.
aku pun juga mendapatkan murobbi disana, mba yang mengajariku dan sabar untuk selalu mengingatkanku bila ada kesalahan. Namanya mba hasnah. Beliau ibu beranak dua. Kami sangat dekat. Dan dia kadang banyak sekali bercerita. mulai dari dia dulu seperti apa, lalu saat dia kuliah sampai menikah.
“tya kapan mau menikah?”
“saya? Menikah?”
“iya siapa lagi”
“belum ada kepikiran, baru aja kelar urusan skripsi mba”
“ya siapa tau aja, apa mau mba carikan hehe”
“hehe ga usa mba. Kan jodoh bisa aja datang sendiri. Sudah ada yang ngatur juga”
“emang benar, jodoh sudah ada yang mengatur. Tapi kita juga harus usaha de tya”
“saya udah usaha kok mba. Saya udah kuliah baik-baik, sudah mulai belajar untuk lebih syari lebih memperdalam ilmu agama saya. Saya nunggu aja mba ”
“lah, nunggu siapa dek? Emang sudah ada kah yang mau ngelamar? Atau adek tya uda ada cem ceman heheh, ”
“cem ceman apa sih mba hehe ada ada aja mba ini. Belum ada mba yang ngelamar. Cuman dulu pernah suka deg degan gitu  kalau ketemu orang itu, hehe mungkin itu karena dulu masih muda masih belum ngerti kali ya”
“wah ini hehehe, terus kenapa ga sama orang itu aja dek”
“orangnya sudah ada pacar mba, tetangganya lagi heheh”
“loh jodoh ga ada yang tau dek”
“ya udah lah mba, nanti juga datang sendiri bawa orang tuanya kalau jodoh wehehe”
Dan kami pun tertawa. Kadang aku suka di becandain seperti itu. Mulai dari teman, keluarga hingga murobbiku sendiri menanyakan kapan menikah. Aku masih belum ada kepikiran untuk menikah. Apalagi dengan orang yang ga tau siapa dan dimana.
4 bulan kemudian aku pun wisuda. Keluarga dan temanku datang ke acara wisudaku. Bahagia sekali bisa membahagiakan orang tua dan teman-teman. Alhamdulillah aku termasuk mahasiswa yang coumlaude (berprestasi). Tapi aku masih merasakan ada yang kurang entah apa itu, tapi ya sudah lah toh aku sudah lulus juga . pikirku demikian.
Baru beberapa hari setelah wisuda, ada yang datang kerumah untuk melamarku. Aku menolaknya, karena aku memang belum siap untuk menikah. Saat malam hari aku memikirkan, “sebenarnya aku memang belum siapmenikah atau aku sedang menunggu orang itu, ah tidak mungkin orang itu pasti sudah menikah dengan perempuannya.”.
Karena kegundahan hatiku yang entah kapan akan berakhir, aku pun meminta saran kepada murobbiku, dan dia mengatakan sebaiknya aku solat tahajud, memohon pertolongannNya dan PetunjukNya. Dan aku pun melakukannya. Hanya air mata yang aku keluarkan entah karena aku kembali sakit ketika mengingat orang itu atau karena apa. Setelah hari itu aku mulai memperbaiki diri lagi,  mulai menata kembali. “aku harus move up. Kembali di jalanNya. Jangan memikirkan orang yang bahkan memikirkanmu juga atau tidak. Semuanya serahkan kepadaNya saja” itulah yang selalu aku katakan pada diriku sendiri.
Setahun kemudian aku mendapatkan sms dari nomor yang tidak aku kenali nomor siapa kah ini.
“assalammualaikum ini dek tya kah?”
“walaikumsalam, iya . maaf ini dengan siapa?”
“ini saya andtya  yang pernah menjadi pemateri di acara talkshow saat kamu kuliah dulu”
“oh kak ta. Ada apa kak?”
“saya mau bertanya. Dek tya sudah ada yang mengkhitbah?”
“belum kak. Ada apa?”
“ya sudah akhir pekan ini saya akan datang ke tempat dek tya untuk mengkhitbah adek. Adek tak perlu menjawabnya disini. Jawabnya nanti saja kalau sudah bertemu”
Orang ini tidak bercanda kan . pikirku. Aku jadi gugup  dan bingung sendiri. Apakah ini benar kak ta atau bukan. Segera aku menghubungi murobbiku dan menanyakan pendapatnya. Dan dia sungguh senang mendapatkan kabar tersebut. Dia menyarankan agar aku segera memberitahukan kepada orang tuaku.
Aku pun memberitahukan kepada ornag tuaku. Awalnya aku merasa takut karena ini dadakan , namun aku percaya mereka pasti mengerti. Dan ayahku pun mengiyakan apa yang aku katakan ibuku pun demikian. Dan akhirnya kami menyiapkan untuk akhir pekan . entah ini mimpi atau bukan aku tidak mengerti. 2 hari kedepannya kak ta, datang kerumah untuk bertamu. Aku tidak mengeti apa maksud tujuan nya datang kerumah. Aku hanya bisa duduk dipojokan dan menunggu. Kak ta datang untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Entah apa yang dibicarakan. Ayah pun memanggilku dan memberitahukan bahwa ia setuju akan permohonan kak ta yang akan mengkhitbahku. Ayah mengatakannya dengan wajah sayu  mungkin karena anaknya akan “diambil” oleh laki-laki lain yang baru saja ia kenal.
Akhirnya selang dua minggu, di akhir pekan kakta datang bersama keluarganya untuk mengkhitbahku. Saat itu aku mendadak mati rasa, duduk disamping ayah dan ibu, mendengarkan maksud kedatangan keluarga kak ta. Rasanya kacau sekali, bahkan aku takberani melihat wajah kak ta. Sesekali saja memandang ke arash orang tuanya yang serius berbicara. Lalu perbicangan khitbah tersebut berlanjut pada tanggal akad pernikahan dilaksanakan.
Akad pernikahan kami berlangsung 3 bulan setelah acara khitbah tersebut. dan aku tidak menyangka akan menikah dengan laki-laki yang diam-diam aku menyukainya, yang dulu pernah aku jauhi-sejauh jauhnya. dan kini kami menjadi pasangan suami istri dan satu rumah. Mungkin ini lah rencana yang Allah buat untuk kami. Suatu ketika setelah menikah kak ta menanyakan beberapa hal kepadaku.
“dek, bolehkah kakak tanya?”
“iya kak, tanya saja”
“kenapa adek mau menerima lamaran kakak?”
“entah, mungkin Allah yang sudah menggerakkan hati dan tubuh ini untuk menerima lamaran kakak. Ada apa kak?”
“mau dengar cerita ga dek?”
“boleh”
“dulu semasa kamu kuliah, kakak sering ke cafe tempat kamu kerja bukan alasan karena kakak suka kesana tapi karena kakak memperhatikanmu dan takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi kakak percaya kamu pasti perempuan yang kuat. dan setelah acara tersebut kakak coba hubungi kamu dek. Coba minta nomer hape, minta akun sosial media mu, tapi kakak belum berani untuk menghubungi mu walapun sudah tau nomer hape dan akunmu. Kakak juga coba untuk datang ke cafe tempat mu kerja dulu, tiap hari kakak datang tapi kamu gak pernah keliatan sampai akhinrya kakak tanya temanmu yang ada di cafe tersebut. akhirnya  kakak dapat alamat rumahmu dan tempat kamu kerja sekarang. Dan akhirnya kakak mulai menabung untuk ngelamar kamu dek, sampai akhirnya yah disini lah kita. Kitah dah menjadi suami istri ”
“tapi kakak dulu pernah kan punya pacara yang 5 langkah itu”
“owh ya bener itu, tapi namanya juga jodohnya sama ade, siapapun pacar kakak dulu itu ya dulu aja. Toh sekarang istri kakak ya adek aja”
Aku pernah menyerah atas jarak dan kenyataan, namun lagi-lagi Allah menunjukkan kuasaNya. Dan membuatku kuat dengan segala caraNya. Dan aku kini tahu bahwa Dia telah menjawab segala doa-doaku selama ini. 

sejauh apapun jarak, sekeras apapun  kita menghindar, sekuat apapun kita menolak  jika Allah sudah menyatukan kita bisa apa?
Sedekat apa pun kita menjalani, setinggi apapun kita berusaha bersama untuk bermimpi jika Allah memisakan , kita bisa apa?
 

Comments