Sudah 5 tahun berlalu semenjak aku meninggalkan kota
ini banyak hal yang telah berubah. Bangunan-bangunan tua kini telah berubah menjadi deretan gedung
tinggi. Rumah kayu yang tersusun rapi kini telah berubah menjadi jajaran rumah
beton warna warni. Pohon-pohon yang dulu menghiasi pinggiran jalan kini hanya
tinggal beberapa tanaman saja yang tersisa. Aku mulai menelusuri kota ini,
mencari kampus kesayanganku. Namun kini bangunan kecil itu berubah menjadi
gedung besar. Berbeda jauh ketika aku kuliah dulu. Aku berkunjung ke sini
karena ada undangan reuni di kampus. Saat
memasuki kampus , aku mengingat kembali memoriku yang pernah
hilang.
***
5 tahun yang lalu…
Kampusku adalah universitas terkenal kala itu. Aku
mengambil jurusan Sistem Informasi. Menyenangkan sekali bisa masuk kedalam
universitas unggulan pikirku. Awal kuliah aku merasa tidak nyaman, karena aku
kurang pandai bergaul. Untung saja aku di pertemukan dengan orang-orang yang
dapat ku jadikan teman ku. Orang-orang yang bisa membantuku selama kuliah.
Selain aku datang ke kampus untuk menimba ilmu aku
pun juga mulai mengisi waktu luangku dengan ikut salah satu organisasi di
kampus. Aku mendapatkan beberapa tanggung jawab di organisasi tersebut. Aku pun
ikut aktip dalam organisasi tersebut.
Selain kesibukannku dalam organisasi aku juga gemar
menulis. Aku paling gemar menulis puisi dan cerita. Walaupun puisi dan ceritaku
tidak sehebat orang-orang yang di luar sana, setidaknya aku mau belajar untuk
terus menulis.
Kala itu aku sedang berjalan di lorong kampus,
menuju perpustakaan. Saat aku berjalan aku menemukan sebuah kacamata tepat di
dekat pintu perpustakaan. Kacamata hitam berbentuk kotak, “sepertinya aku
pernah melihat kacamata ini” pikirku. Namun aku segera mengambilnya dan
menanyakan kepada petugas perpustakaan. Petugas perpustakaan mengatakan bahwa tidak
ada mahasiswa yang melaporan atas kehilangan kacamata tersebut.
Aku menyimpannya dan meninggalkan kontakku kepada
petugas tersebut. Jika ada yang mencari kacamata ini bisa langsung
menghubungiku. Sejenak aku duduk, sambil memperhatikan bentuk kacamata yang aku temukan.
Beberapa hari setelah itu, ada yang menghubungiku
dan mengaku bahwa dia telah kehilangan kacamatanya. Dan kami pun membuat janji
untuk bertemu di sebuah taman. Dan aku pun bertemu dengan pemiliknya. Pemilik
kacamata ini memiliki badan yang cukup tinggi
dan berisi. Aku menanyakan apa benar dia pemilik kacamata yang aku temukan dan benar
dia mengakuinya. Dia menjatuhkan kacamata tersebut, saat keluar dari perpustakaan.
dia baru ingat bahwa setelah merasa kehilangan kacamatanya. Dia mencarinya di
seluruh kampus namun tidak pernah menemukannya, hingga akhirnya dia bertanya
pada petugas perpus dan petugas tersebut memberikan kontakku. Namanya Tulla, dia berbeda jurusan denganku.
Waktu itu aku tidak banyak bertanya, setelah aku memberikan kacamatanya dan
berkenalannya aku langsung pergi pamit. Aku merasa malu sekali bertemu
dengannya, entah perasaan apa ini namun aku sangat malu ketika berhadapan
dengannya. Berdebar-debar rasanya, senang, namun aku merasa pernah bertemu
dengannya sebelumnya.
Setelah pertemuan itu, dia sering menghubungiku untuk
mengajakku jalan hanya sebagai ungkapan terima kasih. Namun aku sering menolak
ajakannya . Dengan perasaanku yang masih campur aduk, aku tidak bisa begitu
saja menerima ajakannya. Ada yang berbeda semenjak pertama kali aku bertemu
dengannya. Aku mengingat tutur katanya yang sopan, dan parasnya yang belum bisa lepas dari
ingatanku. Aku takut kalau aku sedang jatuh cinta. “Ya Allah, engkau yang maha
membolak-balikkan hati. Tempatkan hatiku pada tempat yang benar. Jangan sampai
rasa ini membuat aku lupa denganMu.” Aku terus berdoa agar tidak jatuh cinta
pada orang yang salah.
Pada suatu hari, aku pergi ke perpustakaan seperti
biasanya. Aku memang senang membaca buku di perpustakaan tersebut. Jika tidak ada
jam mata kuliah aku menghabiskan waktuku di dalam perpustakaan.
Dan aku bertemu dengan Tulla lagi di perpustakaan. “Kenapa
harus aku bertemu dengannya “ Aku meggerutu sendiri. Dia yang menyadari
keberadaanku pun duduk berdekatan denganku. Aku menjaga jarak antara aku dengan
dia. Entah mengapa ada rasa takut untuk berdekatan denganya. Dan aku mulai
berdebar-debar lagi, aku sedikit grogi, aku tidak pernah merasakan ini
sebelumnya. Tulla bertanya apa yang sedang aku lakukan dan aku menjelaskannya
seadanya. Aku tidak ingin terlibat percakapan yang panjang dengannya. Tidak ada
alasan yang tepat untuk menjelaskan bagaimana aku bisa berdebar-debar dan terbata-bata
saat bicara denganya. Aku pun pergi, namun sebelum pergi Tulla memohon padaku
untuk mengabulkan menerima ajakannya sebagai tanda terima kasihnya. Dan aku pun
menyetujuinya dengan syarat aku dan dia tidak hanya berdua. Ketika aku
mengatakan hal tersebut Tulla tersenyum kecil dan Tulla pun setuju atas syarat yang aku ajukan. “Kenapa
aku mengajukan hal tersebut, ini hanya ungkapan terimakasih. Bukan acara
nge-date.” Aku menggerutu lagi menyesali karena telah memberikan suatu syarat
yang konyol.
Pada hari yang telah di tentukan kami pun bertemu
lagi. Kami bertemu di sebuah kafe di atas puncak. Aku tidak menyangka kafe yang
kami datangi adalah tempat kesukaanku yang sering aku datangi. Letaknya tepat
di atas puncak dengan pemandangan malam yang indah beserta lampu-lampu yang
menghiasi kota dan dari sini seluruh kota yang aku tinggali terlihat. Tulla
bercerita bahwa kafe ini tempat dia bekerja, dia juga terkadang bernyanyi di
sini bersama bandnya. Aku baru tau dia bekerja di sini, namun aku tidak pernah
melihatnya sebelumnya.
Dia bercerita banyak hal, dia juga cepat akrab
dengan temanku. Mungkin hanya aku yang berdiam di situ. Aku hanya bercerita
seadanya, selebihnya aku menjadi pendengar . Malam itu, menjadi malam terakhir
aku bertemu denganya. Entah bagaimana dia seperti tiba-tiba hilang. Hari-hari
berikutnya dia tidak pernah hadir lagi, aku tidak pernah bertemu lagi. Mungkin kami
sibuk dengan kesibukan masing-masing. Aku seperti megharapkan kehadirannya,
seperti kehadirannya adalah obat bagiku. Namun aku tidak boleh terlalu
berharap. “Ya Allah, lindungi dia, jagakan dia. Lancarkanlah segala urusannya.
Dan sampaikan salamku padanya. Ya Allah maafkan aku yang telah jatuh cinta pada
hambaMu, jika dia akan jadi milikku maka pertemukan aku denganya di saat waktu
yang tepat, namun jika dia bukan milikku terima kasih karena Kau pertemukan aku
dengan orang yang baik.”
Setiap malam aku selalu berdoa untuknya. Aku lebih percaya
akan kekuatan doa. Kami satu universitas, namun kami tidak pernah bertemu. Bahkan aku juga tidak menemukannya lagi di
perpustakaan itu.
Aku hanya bisa terus memperbaiki diri. mendekatkan
diri padaNya. Selalu berdoa yang terbaik untukku dan untuknya. Aku percaya
entah kapan itu jika kami di takdirkan bertemu kita akan bertemu.
***
Tiba di kampus aku mulai berkeliling. Mencoba
mengingat kembali masa-masa itu. Mengingat bagaimana aku berusaha keras untuk
melupakan kenangan itu. Berusaha memperbaiki diri dan merangkai mimpi sebagai
penulis. Kini aku sukses sebagai penulis beberapa novel yang bestseller. Semua
itu karena kenangan yang berharga yang memberikan aku motivasi untuk meraih
mimpiku.
Tujuan pertamaku saat berkeliling yaitu perpustakaan.
Kini perpustakaan tersebut lebih besar dan lebih banyak buku yang tertata rapi
di dalam rak-rak yang telah di susun sedemikian rupa agar terlihat cantik. Hampir
keseluruhan ruangan tersebut berubah. Hanya beberapa buku dan rak yang sengaja
tidak di ubah posisinya.
Setelah puas aku berkeliling melihat perpustakaan, aku
pun keluar. Saat aku melewati pintu perpustakaan, lagi-lagi aku menemukan
kacamata itu lagi. Aku berdebar-debar. “pasti orang itu ada di sini” pikirku.
Aku bawa kacamata itu ke mc dan meminta mc tersebut mengumumkannya. Aku
memberitahukan mc tersebut bahwa aku akan menunggu di dekat gazebo. Aku sengaja
menunggunya, aku ingin bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya hanya ingin
mengembalikan kacamata itu lagi. Ini kedua kalinya aku mengembalikan kacamata
ini. Mungkin ini salah satu caraNya.
Entah perasaan apa ini, mungkin ini rasanya rindu.
Ketika lama tidak bertemu, dan kini akan di pertemukanNya. Aku harus
bersiap-siap jika nantinya aku tau bahwa dia telah berkeluarga. Ya hanya itu
yang ada pikiranku. Aku tidak akan habis pikir jika dia benar-benar telah
berkeluarga. 5 tahun setelah pertemuan tersebut, pasti akan banyak hal yang
berubah.
Beberapa menit pun berlalu, aku masih tetap
menunggu. 1 jam berlalu, aku masih menunggu. Hingga aku mulai lelah. Akupun
meninggalkan acara tersebut dengan perasaan kecewa. aku berharap bahwa kacamata
ini benar miliknya. Dia yang aku simpan rapat-rapat dalam hati. “jika memang
kami di ciptakan untuk saling menjauh tidak apa-apa. Berarti kami akan bertemu
dengan yang lebih baik. Namun jika kami memang di ciptakan untuk saling
bertemu, temukan kami dalam ikatan yang suci, dalam pertemuan yang tidak ada
kata perpisahan. ” aku hanya bisa diam dan berdoa.
Keesokkan harinya, aku datang ke kafe. Dimana dulu
aku sering menghabiskan waktuku untuk menuliskan beberapa ceritaku. Dimana aku
dulu pernah bertemu dengannya. Kafe ini masih sama seperti dulu saat aku masih
kuliah, hanya ada beberapa yang berubah.
Aku duduk tepat di pinggir dengan jendela besar yang
langsung mengarah kearah kota, agar aku bisa melihat indahnya lampu-lampu yang
menghiasi kota . Pemandangan yang aku liat tidak jauh seperti 5 tahun yang
lalu. Aku mengeluarkan kacamata hitam tersebut. Kini kacamata itulah yang
menemaniku . “semoga kacamata ini bisa kembali kepada pemiliknya”. Entah apa
yang aku harapkan jika aku bertemu dengan pemilik kacamata ini, mungkin saja
pemilik ini bukan orang yang sama seperti 5 tahun yang lalu. Sejenak aku
kembali mengingat bagaimana aku bertemu denganya. Pertemuan yang bisa di hitung
jari, pertemuan yang tidak banyak meninggalkan arti . namun aku tidak memiliki
alasan untuk melupakan hal tersebut. Sesaat setelah itu aku mendengar seseorang
memainkan sebuah lagu di atas panggung yang di sediakan di kafe tersebut.
Telah
ku temukan yang aku impikan
Kamu
yang sempurna
Segala
kekurangan semua kelemahan
Kau
jadikan cinta
Aku mengenal suara ini..
Tanpamu
ku tak bisa berjalan
Mencari cinta sejati tak kutemukan
Darimu
aku bisa merasakan
Kesungguhan
hati cinta yang sejati
Suara ini, suara yang lemah lembut. Suara yang
pernah aku dengar 5 tahun yang lalu . hatiku berdebar-debar dengan cepat. aku
mendengarkan lagi dengan seksama. Dan aku mencari asal suara tersebut.
Kamu
dikirim tuhan
Untuk
melengkapiku tuk jaga hatiku
Kamu
hasrat terindah untuk cintaku
Karena
kau jaga tulus cintamu
Ternyata
kamu yang ku tunggu
Segala
kekurangan semua kelemahan
Kau
jadikan cinta
Itu suara Tulla. Aku melihatnya di atas panggung.
Tidak terasa aku meneteskan airmata. Aku bahagia karena aku bisa melihatnya. “Alhamdullilah,
aku bertemu dengannya.” Kataku. Aku hanya bisa mengucap syukur, karena telah
dipertemukan dengannya. Seperti seorang yang merindukan orang yang terkasihnya,
pandanganku tidak lepas darinya, ku dengarkan baik baik lagu yang dia bawakan. Aku
berdebar-debar, seperti aku baru jatuh cinta lagi, seperti rasa tu kembali
datang. Rasa yang pernah aku kubur. Rasa yang tidak aku perlihatkan pada
siapapun , rasa yang tidak dapat aku ungkapkan.
Namun ada keraguan yang terlintas di pikiranku,
apakah dia mengingatku. Dengan cepat aku menghilangkan segala prasangka
burukku. Entah untuk di persatukan atau di berikan pelajaran, yang jelas
tujuanku untuk mengembalikan kacamata ini. Aku hanya dapat menguatkan diriku.
Setelah dia selesai bernyanyi, dia turun dari atas
panggung dan berjalan menuju tempat lain. Aku melihat dari kejauhan dia
mendatangi seorang wanita yang sedang mengendong anak kecil. Aku melihatnya
sangat akrab dengan mereka. Lagi-lagi
airmata ini menetes. Entah karena bahagia, entah karena sedih, bahagia karena
dia menemukan yang tebaik untuknya atau sedih karena wanita itu bukan aku.
Aku kembali memalingkan wajahku, memutar balik ke
belakang dan kembali ke tempat dudukku semula. Aku menikmati pemandangan yang
ada di luar, namun di hatiku seperti tertusuk tusuk . seperti terbang lalu sayapku patah dan aku
terjatuh tak ada yang menolong “Ya Allah, entah untuk apa Kau pertemukan aku
dengan dia. Namun aku percaya rencanaMu kebih indah dari segalanya.” Tiba tiba
saja, ada yang menarik kursi di depanku dan memanggilku.
“permisi mba, boleh saya duduk di sini?” kata pria itu.
Segera aku menghapus air mataku. “iya silahkan ” jawabku
dan aku mulai memperbaiki pandanganku. aku melihat postur tubuh yang tinggi dan
berisi, serta suara yang lembut dan sopan. Seperti mengingatkan aku pada
seseorang.
“sendirian aja mba?” tanya nya dengan lembut.
Aku
mengangkat wajah ku dan melihat lawan bicaraku “i… iya” jawabku terbata-bata.
Ternyata yang berada di depanku Tulla. Orang yang aku rindukan, orang yang
membuat aku berdebar-debar. Aku melihat dia sedang menggendong balita dan ada
seorang wanita yang ikut duduk di sampingnya.
“masih ingat aku kah wi??” katanya
“I.. ya Tulla. Aku ingat. Oia ini kacamatamu bukan,?
Aku menemukannya di dekat perpustakaan saat reuni kemarin” kataku sambil
memberikan kacamata miliknya.
“wah terima kasih wi. Ah kamu tetap sama, kamu
selalu menemukan kacamataku. Aku teledor sekali menjatuhkan kacamata ini”
Katanya dengan gembira.
Aku hanya terdiam. Dan aku mulai berdiri, berniat
segera pamit lalu pergi. Aku takut jika berlama-lama aku akan semakin larut.
“aku mau
pulang . heehe” kataku singkat. Saat aku mengambil satu langkah, dia berhasil
memegang tanganku dan menghentikan langkahku. Aku yang kaget langsung saja
meminta dia untuk tidak menyentuhku. Aku tidak bisa berpikir. Aku sedih. Dan
aku tidak mau tau apapun lagi. Bahkan aku tidak ingin melihatnya. Sungguh rasa
ini sakit sekali, seperti terjatuh buah durian .
Tulla memintaku untuk duduk. Dia ingin
memperkenalkan keluarganya. \ akhirnya aku duduk kembali, Tulla memperkenalkan
wanita di sampingnya itu adalah adik iparnya, dan balita yang dia gendong
adalah keponakannya. Aku kaget, aku sudah salah mengira, namun aku hanya diam
seribu bahasa. Tulla menjelaskan bahwa kafe ini sudah dia beli. Dulu memang
benar dia bekerja di sini, namun dengan jerih payahnya dia membeli kafe ini.
Kadang dia masih bernyanyi di atas panggug itu. Sebenarnya dia tidak datang
hanya bertiga, namun ada adik laki-lakinya yang masih mengurusi pekerjaannya.
Tulla berjanji untuk menemani istri adik nya hingga dia tiba. Tidak lama mereka
berbincang-bincang adik Tulla pun datang. Menjemput istri dan anaknya lalu
berpamitan untuk pergi.
“aku mau cerita wi…” kata Tulla. Aku merasa ini sedikit serius, aku
hanya menganggukkan kepala dan mempersilahkan dia untuk bercerita. Aku tidak
tau apa yang akan dia ceritakan, aku hanya harus mempersiapkan hatiku ,untuk
merasa sakit lagi.
Tulla bercerita, semenjak 5 tahun yang lalu setelah
pertemuan di kafe ini, dia bertekad untuk tidak menghubungiku, tidak
mengusikku. Dia berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dia bekerja keras agar
bisa memiliki penghasilan yang cukup. Dia tidak ingin merusakku, dia ingin
menjagaku, melalui doa-doa. Jika saja waktu itu dia paksakan untuk selalu
bertemu dengaku mungkin sekarang akan berbeda. Aku hanya mampu menjadi
pendengar. Sebenarnya dia membeli kafe ini karena dia tau, aku sangat senang
dengan kafe ini.
Dia bercerita bahwa dia selalu memperhatikanku, saat
di kampus, di perpus, dan di kafe ini. Dia tidak pernah lepas untuk tidak menjaga
dan mendoakan yang terbaik untukku. Dia selalu menanti hingga kini aku dan dia
di pertemukan lagi.
Dia juga bercerita bahwa saat reuni tersebut dia ada
,dan dia tahu kalau aku menunggunya. Tapi dia masih takut, untuk bertemu
denganku. Dia takut jika aku sudah berkeluarga. Dan kini dia sangat bersyukur
karena bertemu lagi di sini. Saat aku datang ke kafe ini, dia sudah ada di
sini. Dan lagu yang dia nyanyikan adalah suatu kejutan untuknya. Sekarang dia sudah menjadi pria sejati. Pria
yang tidak sembunyi ketika ada aku. Sekarang dia sudah siap. Dia juga bercerita
bahwa hingga saat ini dia belum menikah, dan aku pun begitu. Dengan perasaan
yang berdebar debar, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada
sebuah cicin. Bukti bahwa yang dia katakan benar, bukti bahwa dia serius. Bukti
yang lebih dari sekedar lagu yang dia nyanyikan tadi.
“aku pernah menjauh karena aku tau, aku masih banyak
kekurangan. Aku tidak mau mengotori anugrahNya dengan istilah pacaran atau hal
lainnya. Aku percaya jika memang kita di ciptakan untuk saling bertemu, kita
akan bertemu. Aku sekarang sudah siap. Siap menemanimmu di sisa hidupku. Siap
membawamu ke JannahNya. Apapu yang akan kau katakan akan aku terima. Apapun
kekuranganmu itu tidak akan masalah bagiku. Kamu adalah ciptaanNya yang ingin
ku jadikan ratu ku. Sekarang, bersediakah kamu. Memulai lagi dari awal,
menemani aku . mau kah kamu menjadi teman hidupku?”
Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju atas
lamarannya. Aku menangis lagi.
Ini tangisan bahagia. Entah siapa yang akan
menyangka akan berakhir seperti ini. Selama ini kami saling memperbaiki diri,
kami saling bertahan dalam diam. Saling mencintai tanpa mengungkapkan hingga
akhirnya kini Sang Pemilik cinta mempertemukan kami. Dan memuliakan cinta kami
Jodoh ada di
tanganNya, yang perlu kita lakukan hanya terus memperbaiki diri. Berdoa dan
berusaha yang terbaik untuk kita.
~~~ dw.s ~~~
Comments
Post a Comment