Apa
yang di lihat tidak sama dengan apa yang terjadi. Kadang penglihatan itu dapat
menipu. Kadang apa yang terjadi itu suatu keterbalikan dari apa yang terlihat.
“aku
tidak ingin menjadi seorang guru ”
kata Andi dengan lantang. “aku ingin menjadi dokter atau profesi lainnya
tapi tidak dengan guru. Aku tidak ingin seperti ayah yang banyak mengerjakan
laporan” sambungnya.
“jadilah
sesuka hatimu nak” kata ayah Andi sambil tersenyum manis padanya. Ayah Andi
seorang guru di sebuah SD. Andi tau sekali bagaimana pekerjaan
ayahnya.pekerjaan dengan gaji yang tidak seberapa namun tenaganya selalu
terkuras habis, tapi andi tidak pernah melihat ayahnya berkeluh kesah tentang
profesinya. Ayahnya tau memang ini sudah menjadi profesi dan tanggungannya. Kadang
Andi bertanya “kenapa ayah mau melakukan ini?” dan ayahnya hanya menjawab
dengan tersenyum “karena ayah suka”. Itu satu kalimat yang sangat membingungkan
bagi Andi. Bagaimana bisa ayahnya menyukai pekerjaan yang sangat merepotkan
ini. Tidak jarang Andi dan ibunya pindah rumah untuk mengikuti ayahnya pindah
dinas. Jika beruntung mereka akan mendapatkan tempat yang layak dan tidak
jarang mereka juga harus pergi ke pelosok untuk mengikuti ayahnya.
Ada
kala itu ayah Andi di pindahkan ke daerah pedalaman, kala itu Andi masih duduk
di bangku SD. Mau tidak mau ,Andi juga harus pindah sekolah. Mereka pindah di
daerah pedalaman yang jarang akan penduduk. Namun di sana masih ada sekolah
dasar dan di situlah ayahnya bekerja dan Andi bersekolah. Tempatnya jauh dari
keramaian, jauh dari pusat perbelanjaan, jauh dari tiang listrik bahkan air
yang didapat di sana merupakan air hujan atau air sumur, tidak ada kata air
PDAM di sana. Jaringan di sana juga tidak ada. Bayangkan saja bagaimana bentuk
tempat tersebut, tidak ada listrik, sinyal dan air pun susah. Andi sangat sedih
dan terus merengek meminta kembali ke rumah sebelumnya.
“ma,
pa , ayo pulang. Andi tidak suka di sini , disini tidak ada tv, tidak ada
sinyal, tidak ada listrik. Andi juga tidak memiliki teman” kata andi sambil
merengek rengek. Ibu andi berusaha membujuk Andi supaya tidak meminta pulang
lagi, namun bujukannya tidak berhasil. “ayo ikut ayah” kata ayah andi sambil
mengendong andi keluar rumah.
Ayah
andi mengajak andi pergi ke sebuah lapangan di dekat rumah yang dia tinggali.
Di situ banyak anak-anak yang seumuran dengan andi sedang bermain bola. Lalu
ayah andi menurunkan andi dari gendongannya. Andi tidak mau, dan berusaha
mengenggam erat bahu ayahnya. “tidak apa-apa, ayo turun sebentar” kata ayahnya.
Dan akhirnya andi mau turun dari gendongan ayahnya. Andi turun dan bersembunyi
di belakang kaki ayahnya. Ayah andi meyakinkan andi bahwa anak-anak tersebut
adalah teman-temannya nanti selama andi bersekolah di SD tersebut. Ayah andi memanggil anak-anak tersebut, lalu
satu persatu menyalimi tangan ayah andi. Mereka juga berusaha untuk berkenalan
dengan andi tapi andi hanya diam. Lalu ayah andi memperkenalkan andi. Tidak
lama, anak-anak tersebut mengajak bermaindengan andi, lama kelamaan andi pun
ikut bermain dengan mereka. Mereka bermain bersama sampai sore menjelang. Semenjak
itu Andi pun akrab dengan anak-anak di sekitar rumahnya dan andi tidak pernah
merengek untuk meminta kembali ke rumah lama kepada ayahnya. Andi selalu memperhatikan ayahnya jika
sewaktu-waktu ayahnya sedang mengajar. Dan terkadang andi bertanya pada
ayahnya, bagaimana rasanya, apakah ayahnya tidak merasa lelah? Dan jawaban
ayahnya selalu sama. “ayah tidak pernah lelah, karena ini kesukaan ayah” dan
andi selalu berpikir bagaimana ayahnya menyukai suatu pekerjaan yang melelahkan
seperti ini.
Hari
demi hari, bulan demi bulan pun berlalu sedikit demi sedikit andi mulai paham
dan mulai mengerti tentang keadaan orang tuanya. Dan sedikit demi sedikit andi
mulai nyaman dengan lingkungannya. Andi mulai terbiasa bermain dengan
teman-teman barunya, dan dia juga mulai nyaman tinggal di situ. Selang beberapa
bulan, ayahnya kembali di tugaskan di tempat lain. Kondisi rumah barunya tidak
jauh berbeda dengan rumah yang dahulu pernah dia tinggali, bedanya kini dia dan
keluarganya tinggal di sebuah perumahan guru. Perumahan guru tersebut
kondisinya cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak? Rumahnya terbuat dari kayu,
atapnya dari triplek dan kayu kayu kecil yang andi tidak tau kayu apa itu.
Belum lagi banyak lubang di atas pelaponnya, triplek yang melekat di
dindingnyya pun terlihat bolong-bolong. Ini rumah apa? Pikir andi, sungguh
ironis sekali, rumah seorang guru, seorang pengajar negeri, seorang yang
seharusnya di biayakan oleh pemerintah harus tinggal di rumah yang terlihat
seperti gudang ini. Awalnya andi terkejut dan berpikiran ingin merengek untuk
meminta ayahnya kembali kerumah lama, namun pikiran itu segera dia singkirkan
karena dia tahu, ayahnya tidak akan pindah. Demi menyamankan keluarga dirumah,
ayahnya membersihkan dan memperbaiki rumah tersebut. Kadang andi melihat raut
wajah ibu, apakah ibunya juga sedih atas hal ini, namun raut muka ibu andi
tidak pernah terlihat ada goresan kesedihan. Ibu andi selalu menerima
bagaimanapun keadaan ayah andi. Andi un bersosialisasi lagi, dan berusaha
menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Dan itu dia lakukan setiap kali mereka
pindah. Disetiap tempat yang ia tinggali, ia selalu mendapatkan suatu pelajaran
dari ayahnya. Andi sangat kagum pada ayahnya, bagaimana ayahnya masih bisa
tersenyum lebar ketika dia sedang di landa gunda, bagaimana dia bisa tahan
dengan berbagai kondisi. Tidak hanya ayahku, namun ibuku juga. Terkadang orang
di sekitar ayahku mengatakan jika ayahku seorang yang memiliki segalanya,
seseorang yang memiliki banyak uang, dan makmur hidupnya. Namun kenyataanya,
ayah andi selalu berusaha mencukupi uang yang kita gunakan. Gaji guru tidak
cukup untuk keperluan mereka selama sebulan. Dengan kondisi rumah yang buruk, membuat
ayah andi harus berpikir keras, bagaimana mengakali segalanya agar mereka
tercukupi semua. Mereka yang berkomentar tidak mengerti bagaimana jatuh
bangunnya menjadi guru, bagaimana perjuangan guru untuk meneruskan ilmunya.
Semakin
seringnya andi berkelana dengan ayahnya dan ibunya, semakin andi mengerti
bagaimana bersosialisai dengan lingkungan, terkadang tidak perlu waktu yang
lama bagi andi untuk dapat dekat dengan anak seumuran dengannya. Semakin
bertambah umurnya andi, dia semakin tau jawaban atas pertanyaannya sedari dulu.
Jawaban mengapa ayahnya menyukai pekerjaan yang harus mengorbankan otak dan
kekuatannya. Mungkin bagi orang lain menjadi seorang guru itu hal yang mudah,
hanya tinggal mengajarkan mata pelajaran saja di sekolah. Tapi ga semudah itu.
Menjadi
guru itu berarti kamu harus menjadi orangtuanya, mengajarkannya hingga ia
mengerti, memahami mereka seperti kau memahami anakmu, dan semua itu memang
sudah menjadi bagian menjadi guru. Sedikit banyaknya upah yang di berikan pada
seorang guru itu tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanannya. Belum lagi
mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari kata ramai, jauh dari kata listrik,
dan jauh dari peradaban manusia. Andi bingung kenapa masih banyak orang yang
mau mengorbankan kehidupannya demi mengajar di daerah terpencil. Namun jika ia
bertanya pada ayahnya, ia hanya mendapatkan senyuman manis dari ayahnya “kau
akan mengerti sediri nak ” begitulah kata ayahnya.
Tahun
ke tahun pun di lalui, telah banyak hal yang di lalui andi namun jawaban yang
ia inginkna belum ia dapatkan. Sampai tiba ia duduk di bangku sma dan kenal
dengan seorang penggiat pendidikan. Seorang honorer di sebuah sd pelosok. Kala
itu ia sedang magang dan terkadang kegiatan magangnya itu survei ke daerah
pelosok-pelosok. Saat ia berkunjung di sebuah desa yang merupakan desa perbatasan.
Disana ia bertemu dengan ka muis. seorang honorer yang bekerja di sd sekitar
situ. Entah bagaimana bisa, andi bisa akrab cepat dengan ka muis. dia juga
mengajak andi untuk ikut dengannya membantu mengajar di hari minggu, awalnya
andi menolak karena hal itu tidak akan memberikan suatu yang berharga bagi
andi. Namun entah rayuan apa dari ka muis, andi mau ikut.
Hari
pertama andi membantu ka muis, di hari minggu pagi. Ia harus menempuh
perjalanan kurang lebih 1 jam dari rumahnya ke rumah ka muis. setelah itu di
lanjutkan lagi ke tempat mengajarnya. Ka muis memiliki 3 stand tempat belajar
di mana di setiap tempat mengajarnya itu merupakan center anak-anak. Stand
pertama di tempuh 1 jam perjalanan dari rumah ka muis, tempatbelajarnya yaitu
di sebuah mesjid. “kenapa di sini kak?” tanya andi heran. Andi mengira ka muis
akan mengajar di sebuah rumah atau di sebuah tempat yang memang untuk dia
mengajar. Ka muis hanya tersenyum, lalu meminta andi mengajari anak-anaknya. Andi
bingung bagaimana dia mengajrkan mereka, apakah mereka akan mengerti dengan
cara mengajar andi, namun andi berusaha untuk mengajari mereka. Tidak jarang
mereka tidak memperhatikan andi, namun ka muis menyemangati andi. Lama-lama
andi mulai terbiasa. Mereka mengajar hanya 2 jam saja di setiap tempat. Lalu
pindah ke stand kedua yang di tempuh kurang lebih 30 menit dari tempat yang
ketiga, dan tempatnya ini sebelum tempat
pertama, andi bertanya kenapa tadi mereka melewatinya, lalu ka muis hanya
menjawab “kita mengajar di tempat paling jauh dahulu”. Andi melihat tidak ada
raut lelah dari muka ka muis. ka muis ini sekitaran baru berumur 25-27 tahun.
Ya masih muda, namun sudah mau melakukan hal seperti ini. Di tempat ke dua pun
sama, ia mengajar lagi dengan pelajaran yang sama dan dengan perlakuan yang
berbeda. Andi hanya memperhatikan bagaimana ka muis mengajarkan anak-anak.
Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, namun ia harus menyimpannya sampai
mereka selesai mengajar. Setelah dari tempat kedua , mereka pergi ketemmpat
terakhir. Namun kali ini hanya ada 4 orang anak yang datang dan mereka
mengatakan bahwa teman-teman mereka tidak datang hari ini. Kak muis tetap
tersenyum dan mengajar dengan sepenuh hati walau hanya ada 4 orang anak.
Setelah
selesai mengajar, andi dengan ka muis pulang ker rumah ka muis. dan di situlah
ka muis mulai bercerita. Alasan kenapa dia mengadakan pengajaran selain di
sekolah, alasan kenapa ada 3 stand dan di setiap stand cara mengajarnya berbeda
di situ kak muis bercerita banyak sekali. Andi baru mengerti kenapa hal
tersebut ka muis lakukan. Dari semua cerita ka muis ada satu yang andi tangkap
“ tidak peduli bagaimana jalan yang harus saya tempuh jika itu untuk memberikan
suatu ilmu akan saya lakukan” itulah kata dari ka muis yang sangat andi ingat. Dan
andi bertanya alasan ka muis untuk mengajar dan jawabannya cukup sederhana
“karena saya suka” itu adalah jawaban yang mengingatkan andi pada jawabam
ayahnya. Jawabannya sama. Karena suka.
Apa mereka cukup gila atau mereka tidak ada hal lain selain menyukai hal seperti
itu pikir andi. Sekali dua kali danakhirnya hal itu menjadi rutinitas andi di
hari minggu selama ia magang. Dan akhirnya andi terbiasa.
Kegitaan itu selesai ketika anak-anak yang di
ajarkan telah selesai ujian nasional. Sebenarnya jam pelajaran di hari minggu
itu di maksudkan untuk persiapan mereka ujian, karena di sd mereka tidak
memberikan jam pelajaran tambahan untuk murid-muridnya maka ka muis dengan
senang hati memberikan private kepada mereka. Setelah ujian berakhir mereka pun
kembali ke rutinitas sehari-hari mereka, ada yang pindah keluar pulau ada yang
kembali membantu orang tua mereka di ladang,
dan ada juga yang melanjutkan pedidikan mereka. Sedih juga ketika mereka
meninggalkan andi.
andi
bingung ada perasaan aneh ketika ia berhenti untuk mengajar, ada perasaan sedih
ketika mereka meninggalkan andi.
Setelah
kegiatan tersebut andi bertemu dengan ka muis juga di kegiatan lainnya. Andi
juga mulai mengajar di smp yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Tidak jarang
andi menghabiskan waktu liburannya hanya untuk mengajar dan melakukan kegiatan
dengan anak-anak di bawah umurnya. Hari demi hari andi bertemu dengan
orang-orang yang bergerak di bidangnya, orang-orang yang merupakan seorang
pengajar.
Setelah
lulus sma, andi melanjutkan sekolah tingginya di luar kota. Awalnya andi ingin
berhenti mengajar, walaupun kerinduannya akan mengajar masih tersimpan dalam
benaknya, namun andi berpikir bagaimana cara ia mengajar di tanah orang. Dengan
seiringnya andi tinggal di kota orang, andi pun mulai mencari di media sosial
tentang keberadaan para penggiat ini. Mulai dari forum pengajar, komunitas
inspirasi dan bahkan perkumpulan teaching.
Dia mulai menyukai bidang itu, dia menyukai senyum anak-anak, dia mulai
suka dengan mengajar. Seolah tidak pernah lelah andi terus mengajar di
sela-sela jadwal kuliahnya yang padat. Kadang dia ijin kuliah hanya untuk
mengajar si sebuah daerah pedalaman. Its amazing.
Rutinitas
itu dia lakukan terus hingga lulus kuliah. Sampai akhirnya dia tau kenapa
ayahnya menyukai pekerjaannya. Andi juga mengerti bagaimana rasanya saat ia
mengajar. Bukan karena upah yang di terima, bukan karena pujian yang di harap,
namun karena ketulusan hati, karena kemauan hati untuk memberikan ilmu, untuk
membantu memperbaiki anak bangsa. Andi sangat beruntung karena dari sekian
banyak pengalaman yang ia terima, dari sejauh perjalanan yang pernah dia lalui,
walaupun dulu dia tidak menyukai mengajar, walaupun dulu dia tidak ingin
menjadi guru namun pengalamanlah yang mengajarkan andi. Sekarang andi bekerja
di sebuah kantor pemerintah dan di sela-sela kesibukan itu dia selalu membuka
kelas membaca dan menulis untuk umum, tidak jarang juga dia ikut menjadi
relaawan di sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan. “ayah, kini aku sepertimu. Seorang pendidik”
kata andi pada ayahnya.
Comments
Post a Comment