Sehari mengajar , selama menginspirasi

14 september 2015

Hari ini para inspirator yang dari berbagai profesi datang ke sekolah dasar untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang profesi mereka. Mereka meluangkan waktu mereka demi menyempatkan memberikan sedikit ilmu mereka pada adik-adik kita. Mereka adalah orang-orang yang sadar akan pentingnya pendidikan dasar di sekolah dasar. Karena kita sendiri tahu bahwa pelajaran pada masa sd sangat penting. Semua hal mulai di kenalkan saat duduk di bangku sekolah dasar. Dewasa ini, kita pasti mengingat masa yang paling menyenangkan adalah masa sekolah dasar. Entah itu karena permainannya, entah karena guru yang mengajar, atau karena teman baru yang mereka dapatkan. Bahkan kebanyakan orang sekarang mengingat pelajaran sewaktu mereka masih duduk di sekolah dasar. Oleh karena itu sangat penting dewasa ini kita memberikan kulitas terbaik dari sebuah pendidikan saat adik-adik kita menginjak sekolah dasar. Sekolah dasar adalah gerbang utama adik-adik kita untuk mengetahui tentang dunia. Di sini juga penting peran bagi para inspirator untuk memberikan sebuah aspirasi sebuah gagasan bahwa profesi itu sebenarnya banyak.

Ini cerita dari sdn 041 samarinda, di sini ada 7 inspirator, 3 dokumentator, dan 2 fasilitator. Inspirator adalah mereka yang bersedia menjadi seorang guru namun mereka bukan mengajarkan tentang mata pelajaran adik-adik sd saat itu namun mereka mengenalkan masing-masing profesinya kepada adik-adik sd dengan gaya mereka sendiri. Kalian bayangkan saja seorang dokter yang biasanya mengobati pasien, yang hanya mendengar keluh kesah tentang penyakit pasiennya sekarang harus menghadapi adik-adik kita yang masih duduk di bangku sd. Inspirator di sdn 41 samarinda ini diantaranya ada seorang dokter (mba tya), jaksa (mba tina), motivator (mas akbar), dosen (mas eko), jurnalis (mba yova), it (mas surya), dan manager (mas fatur). Mereka adalah orang-orang yang hari ini bertugas mengajar di sd 041 . Adapun dokumentator ialah orang yang memegang kamera, mereka bagian mengshoot adik-adik kita dan para inspirator. Mereka adalah orang-orang yang mengabadikan wajah adik-adik kita kedalam lensa mereka diantaranya ada kak mayo, kak wisnu, dan kak usy. Sedangkan fasiltator adalah mereka yang menjembatani antara sekolah dengan inspirator dan dokumentator diantaranya ada mba dewi dan mba dian.

Dengan segenap persiapan yang sudah di siapkan oleh para inspirator, dokumentator dan fasilitator. Tibalah pada hari menginspirasi. Deg degan adalah hal pertama yang di rasakan oleh para nspirator karena yang mereka hadapi adalah adik-adik yang belum genap 11 tahun. Mereka harus siap dengan segala resiko yang ada. Mereka juga harus punya strategi yang baik untuk membuat adik-adik tersebut tertarik mendengarkan mereka.

14 september 2015, hari senin semua inspirator datang kecuali mas fatur dengan mba yova. “mungkin mereka telat” ujar dewi. Pada hari itu semua inspirator dengan fasilitator menjadi petugas upacara. Bayangkan saja, mereka yang biasanya terbiasa dengan profesi mereka masing-masing, namun ketika di sekolah dasar tersebut mereka di minta untuk menjadi petugas upacara oleh kepala sekolah sdn 041. “wah, bagaimana ini kita di mintai tolong menjadi petugas upacara? Sudah lama sekali kita tidak mengikuti upacara hehe” ujar pak eko. “iya, saya juga. Maklum dulu saat masih sekolah sering bolos waktu upacara hehe” canda pa akbar. “ayo sudah, kita coba saja. Hitung-hitung kita nostalgia jaman sd kita dulu” kata ibu tya. Dan akhirnya dengan pertimbangan yang matang para inspirator pun menjadi petugas upacara pada hari inspirasi. Pada pagi itu inspirator yang datang tepat waktu ialah mba tya, mba tina, mas akbar, mas eko, dan mas surya. Mba tya menjadi ajudan yang membawakan teks pancasila yang akan di bacakan oleh pembina upacara yaitu mas akbar. Mba tina sebagai protocol atau pembaca susunan upacara, mas eko sebagai pembaca uud 1945, dan mas surya sebagai pembaca doa. “wah, saya grogi juga ini. Biasanya saya berdiri di depan sebagai seorang motivator atau dosen saja yang di hadapkan pada orang-orang yang sudah dewasa. Sedangkan ini saya berdiri di depan adik-adik sd. Hehe” kata mas akbar . Mas akbar sangat tertarik atas tawaran menjadi pembina upacara dan sekaligus gugup. “ah, mas akbar kan motivator gampang aja itu. Yah cuap-cuap aja lah di depan hehe” kata mas surya meledek. “semangat ya kakak-kakak semua.” Kata dewi menyemangati para inspirator yang terlihat gugup saat upacara akan di mulai. “kemana ya mba yova dengan mas fatur??” Tanya dian. “mungkin mereka telat.” Kata mba tina menenangkan. “bagaimana jika mba yova dengan mas fatur tidak datang?” Tanya mba tina sambil melihat ke arah dewi dan dian. “gampang aja itu. Kalau tidak ada ya berarti para fasil menjadi inspirator juga hehe” jawab mas eko. “wah wah,,, bisa” jawab dewi dengan pasti. Bukan hal yang aneh bagi dewi untuk berhadapan dengan adik-adik sd karena orang tua dewi seorang guru yang biasa dengan adik-adik sd. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi dewi bertemu dengan adik-adik sd dan juga bukan kali ini saja dewi di mintai untuk mengajar atau sekedar membantu adik-adik sd. Dewi dengan senang hati jika di mintai menggantikan inspirator untuk mengajar. Sebenarnya dian juga tidak jauh berbeda dengan dewi, namun dian baru kali ini dia berada di suatu lingkungan yang megharuskan dia untuk lebih banyak berinteraksi pada adik-adik sd. “kamu saja ya dew, jika di mintai untuk menggantikan posisi mba yova atau mas fatur” saran dian pada dewi, karena dian tau dia tidak akan sanggup menghadapi adik-adik kecil itu. “oke” kata dewi.

Sebelum upacara di mulai, adik-adik sd di arahkan untuk berbaris sesuai tempat yang telah di tentukan. Dan mengarahkan adik-adik sd tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membuat barisan mereka rapi saja itu membutuhkan waktu yang lama. Selalu saja ada hal-hal yang membuat lama ketika mengarahkan dan merapikan barisan adik-adik sd . Ada yang lari-lari, ada yang saling mengejek dan tidak jarang sebelum upacara ada yang menangis karena di jahili temannya. Kalau sudah begini mau tidak mau guru memanglah yang menengahi dan membuat adik yang menangis tersebut diam dan mau mengikuti upacara. “kalau kita jadi guru, kebayang ya kita tiap hari kerjaanya negdiemi anak yang nangis hehe” kata mas akbar. “tapi guru ini hebat. Kesabarannya memang patut di puji” kata mba tina. Setelah ritual baris-berbaris telah selesai, upacara pun di mulai. Upacara di mulai dengan hikmat. Semuanya berjalan dengan lancar. Masing-masing inspirator yang menjadi petugas upacara melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun rasa was-was mulai menjalar di pikiran dian dan dewi karena saat upacara di mulai hingga akan berakhir, tidak ada kemunculan mba yova dengan mas fatur. “oke tidak masalah jika mereka tidak datang. Kita bisa aja menghandelnya” kata dian. Dewi dan dian siap-siap merubah jadwal rolling jika benar mba yova dengan mas fatur tidak datang. Upacara selesai, dan adik-adik di arahkan untuk masuk ke dalam kelas. Sedangkan para inspirator masuk kedalam kantor untuk mengambil peralatan tempur mereka . Peralatan tempur mereka dengan  adik-adik sd bermacam-macam. Misalnya mba tya, dia membawa peralatan dokternya yang akan di perlihatkan ke adik-adik sd atau mas akbar yang membawa peralatan menggambarnya.

Saat para inspirator sudah memasuki kelas, belum ada tanda-tanda akan kehadiran mba yova dan mas fatur. Akhirnya dewi menghubungi mba yova, baru ingin menghubungi mba yova ternyata dia sudah menghubungi dewi duluan dan menanyakan alamat sdnya. Dan tidak lama mba yova datang. Dewi dan dian bersyukur karena mereka tidak harus menggantikan posisi mba yova. Mba yova yang baru datang langsung menuju kelasnya. Dia mengajarkan tentang profesinya dengan semangat  yang tinggi. Bayangkan saja, jarak yang di tempuh dari rumah mba yova ke sd 041 memakan waktu 1jam lebih dan setelah sampai mba yova langsung mengajar. “hebat ya mba yova, datang langsung mengajar” kata dewi kagum atas semangat yang di miliki mba yova. “iya. Bagus itu dew. Orang yang seperti ini yang memang harus di banggakan. Mereka adalah para inspirator yang hebat, karena di sela-sela kesibukan mereka, mereka rela meluangkan waktu untuk berbagi inspirasi pada adik-adik kita di sd. Jarang ada kan orang dewasa, mereka yang sudah bekerja yang mau repot-repot datang ke sd hanya untuk berbagi inspirasi. Menyampaikan apa sih profesi mereka tanpa di bayar sepeserpun” jelas dian . Memang kegiatan kelas inspirasi ini adalah kegiatan para relawan yang tidak di bayar oleh siapapun. Teman-teman yang bergabung di dalam komunitas ini adalah mereka yang peduli akan pendidikan di indonesia. Mengapa sasarannya adik-adik sd? Karena pendidikan yang paling mendasar adalah pendidikan yang kita dapatkan di sekolah dasar. Adik-adik kita juga tidak banyak tau tentang profesi-profesi selain yang sering mereka temukan. Agar nantinya mereka bisa memiliki suatu angan atau cita-cita yang tidak hanya terpaku oleh satu profesi.

Selama masa rolling para inspirator semuanya berjalan lancar. Mereka mengekspresikan tentang profesi mereka kepada adik-adik sd dengan berbagai cara. Ada yang di ajak bermain, ada yang sambil menggambar atau menyanyi. Raut wajah mereka yang menunjukkan betapa senangnya mereka atas kedatangan para inspirator terlihat dari bagaimana mereka menanggapi para inspirator. Begitu pula dengan para inspirator yang mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menjelaskan bagaimana profesi mereka dengan semangat yang tinggi dan kreativitas yang membuat adik-adik tertarik pada mereka. Walaupun mereka kelelahan mereka tidak menunnjukkan rasa lelah mereka. Dari kelas ke kelas mereka menjelaskan tetang profesi mereka pada adik-adik sd. Dan di setiap momen-momen yang penting di rekam oleh para dokumentator. saat para inspirator menjelaskan tentang profesi mereka, saat adik-adik SD bermain, saat adik-adik SD memperhatikan penjelasan dari inspirator semuanya di rekam dan di abadikan di kamera dokumentator. Wisnu bagian Vidio sedangkan Usy dan Mayo bagian memotret. namun selama masa pengajaran berlangsung mas Fatur belum juga kelihatan. “saya sudah menghubunginya tapi belum ada kabar” kata Dewi mulai khawatir. “kita tunggu aja . pasti ada kabar” kata Dian menenangkan. sejam-dua jam menunggu, akhirnya mas Fatur memberikan kabar. dia tidak dapat ikut di karenakan ada kecelakaan di tempat kerja. kabar buruk pun tiba, untung saja mas Fatur tidak menjadi korban . walaupun mas Fatur tidak dapat hadir namun kegiatan Kelas Inspirasi tetap berjalan di SD 041 tersebut.

selesai pada sesi pengajaran para inspirator kepada adik-adik SD, tibalah pada sesi closing. Dewi dengan Dian membuat Closing dengan tema cap lima jari. biar kekinian gitu, jadi Dewi dan Dian menyiapkan cat air dan piring. sedangan kainnya di siapkan oleh mas Akbar. setelah cat airnya siap dengan kain putihnya siap, mereka mulai acara closingnya. Dewi meminta bantuan kepada guru-guru di SD 041 untuk membantu mengarahkan adik-adiknya. satu persatu adik-adik SDnya memilih warna cat air yang telah di sediakan oleh Dewi dan Dian lalu  mereka mencelupkan tangan mereka ke cat yang mereka pilih dan setelah itu mereka menempelkan tangan mereka ke kain putih yang sudah di sediakan. setelah itu ada mba Tya yang membantu mencuci tangan mereka yang terkena cat.  kelas pertama yang mencoba yaitu kelas satu. Dewi pkir jika kelas satu duluan pasti akan ribut, mereka akan rusuh dan bisa saling mendahului atau meminta duluan. namun ternyata mereka teratur, mereka bisa di arahkan dengan baik, setelah kelas satu lanjut kelas dua. mereka yang elas dua juga masih kondusif, masih bisa di arahkan dengan baik walaupun mereka sedikit lebih repot di banding kelas satunya karena jumlah murid kelas dua lebih banyak dari kelas satu . setelah kelas dua pindah lagi ke kelas tiga, lalu kelas empat, lima dan enam yang terakhir. namun mulai dari kelas tiga sampai kelas enam tidak susah untuk diarahkan. Dewi sudah menjelaskan bahwa satu anak mendapatkan satu warna cat. namun kebanyakan mereka mencampurkan warna yang satu dengan yang lainnya. sehingga warna yang di hasilkan pun tidak bagus, belum lagi saat mereka menempelkan tangan mereka ke kain tidak beraturan  dan taraaaaang, terjadilah keberantakan yang berarti di kain putih tersebut.

setelah acara cap lima jari, para inspirator, fasilitator, guru dan para murid foto bersama. di situ terlihat wajah-wajah yang bahagia. para inspirator senang karena telah memberikan suatu hal yang nantinya akan bermanfaat bagi adik-adik SD, para fasilitator juga senang karena tugas mereka di SD tersebut sudah selesai, dan para dokumentator turut bahagia karena mereka dapat mengabadikan setiap momen yang tercipta pada hari Inspirasi ini. begitu pula dengan guru dan para murid yang senang atas kedatangan para penginspirasi. setelah acara penutupan adik-adik SD tersebut di pulangkan dan para penginspirasi beristirahat di kantor. dan pada saat itulah mereka masing-masing menceritakan pengalaman mereka selama mengajar di dalam kelas yang berbeda-beda. “saya lebih senang mengajar di kelas dua, di bandingkan kelas lima.” kata mas Akbar . “kenapa bar?” tanya mas Eko. “ya karena mereka lebih enak di atur hehe” kata mas Akbar. “eh, kenapa saya dapat kelas satu. aduh nikmat banget pokoknya, ributnya dapet banget ” kata mba Yova sambil tertawa. “mereka juga antusias ketika saya memakai baju bu dokter. sampai ada yang bilang bu dokter mau suntik kami ya. haduduh hehe mereka ini lucu sekali” kata mba Tya. “saya malah tadi sempat di kira pilot dan pramugari oleh ana-anak ketika saya memakai baju dinas saya ini. hehehe” tambah mba Tina bercerita. mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama mengajar sambil menikmati makan siang yang telah di siapkan oleh phak sekolah. kepala sekolah SD 041 jug senang sekali atas kedatang para inspirator yang telah meluangkan waktu mereka untuk mengajar di SD 041. dan kepala sekolah juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Dewi dan Dian sebagai fasilitator yang telah menghubungkan para inspirator dengan sekolah. begitu pula dokumentator, kepala sekolah juga berterima kasih karena mereka bisa mengabadikan setiap momen selama sehari menginspirasi di SD 041. 

itulah sehari mengajar merupakan suatu pengalaman yang tersendiri bagi para inspirator

Comments