Gara-gara
saya melihat foto abang Banyut bermain di pantai, saya menjadi penasaran
seperti apa pantai yang dia katakan bagus itu. Saya pun mencari informasi dari
teman-teman saya tentang keberadaan pantai tersebut. Dari mulut ke mulut pun
cerita mulai mengalir.
Abang
Banyut juga sedikit menceritakan tentang keadaan pantai di sana. Nama pantainya
adalah Pantai Samboja. Letak pantai tersebut ada di kecamatan Samboja kabupaten
Kutai Kartanegara. Saya sering melewati jalan menuju Samboja jika saya pulang ke
Paser. Namun saya tidak mengetahui jika di sana terdapat sebuah
pantai. Banyak versi cerita yang saya dapat dari teman-teman saya. Dari Abang
Banyut, dia mengatakan bahwa pantai di sana letaknya tidak jauh dari jalan
besar menuju Balikpapan. Di sana terdapat banyak keong dan kepiting. Namun
pantai di sana tidak seperti pantai biasa. “Jika ingin ke pantainya, kamu harus
berjalan kaki lagi jauh ke dalam dan harus menyebrang melewati aliran yang
biasanya jika pasang kamu tidak akan bisa ke bibir pantai tersebut.” Ujar Abang
menjelaskan. Abang hanya sedikit menjelaskan bagaimana keadaan pantai di sana. Karena
dia ingin saya mencari tahu sendiri. Beda cerita datang dari Dini temanku yang
kebetulan tinggal di daerah dekat dengan
Samboja. “Pantainya kotor, airnya pun jauh, wcnya pun tak dibuka jika
kita hanya ngecamp biasa. Masuknya pun harus bayar” kata Dini menjelaskan.
Pikiran saya kemana-mana setelah Dini yang menjelaskan tentang keadaan di sana.
Kata Abang pantainya bersih sedangkan kata Dini kotor, yang mana yang harus
saya percaya. Karena masih penasaran saya pun bertanya lagi kepada yang lain dan jawabnya pun beda versinya. Lelah
bertanya akhirnya saya pun mencoba cara lain, yaitu searching di google. Saat
searching saya menemukan foto yang indah-indah yang di tunjukkan dari mbah
Google. Dalam foto tersebut, pantainya bersih, kamar kecilnya pun ada, banyak
pohon pinus, pasirnya berwarna putih dan air pantainya bersih. Melihat
foto-foto yang di tampilkan oleh mbah Google saya pun bersemangat untuk pergi
di sana. “Bagaimanapun abang harus membawa saya ke sana” ujar saya.
Dan
beberapa hari kemudian saya bertemu abang dan mengajak dia ke pantai tersebut.
“kamu yakin mau ke sana de?” Tanya abang dengan raut yang tidak yakin. “Iya
bang” ujarku dengan memasang muka yang saya rasa abangku satu ini tidak akan
menolak permintaanku. “ya sudah sabtu kita jalan.” Katanya padaku. Sontak saja
aku senang, bagaimana tidak abang mengiyakan apa yang aku minta. “Abangku ini
baik memang, makasih ya bang” kataku sambil tersenyum lebar padanya.
Hari
ke hari pun berlalu, hingga hari sabtu yang di nantikan pun tiba. Saya telah
mempersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Saya membayangkan
saya akan bermain air di sana, jad saya membawa peralatan mandi dengan pakaian
ganti. Saya juga pasti akan lapar di sana jadi saya membawa beberapa makanan
instan. Peralatan yang biasa saya bawa saat ngecamp semuanya saya bawa. Masalah
tenda dan alat masak itu urusan abang. Bersyukurnya aku memiliki abang yang
hobi adventure. Jadi dia memiliki alat-alat adventure yang saya sendiri belum
bisa memilikinya.
Rencana
dari pagi kami berangkat ke sana namun karena abang menanti temannya yang ingin
ikut jadi sore kami berangkat. Dari samarinda ke simpang Samboja membutuhkan
waktu sekitaran dua jam lebih. “Kita harus sudah keluar dari bukit soeharto
sebelum malam dek” begitu kata abang. Bukit soeharto adalah hutan yang di
lindungi dan satu-satunya jalan menuju arah Balikpapan. Jalanan di Bukit
tersebut berkelok-kelok dan jika malam memang sangat gelap. Kami pun keluar
dari bukit tersebut sebelum azan magrib dan kami berhenti untuk solat. Setelah
slat kami pun melanjutkan perjalanan. “Dek, jaketmu tebalkan?” Tanya abang.
“Iya bang, tenang aja” kataku padanya. Maklum dia bawa adeknya, jadi kalau saya
kenapa-kenapa ya pasti dialah orang yang akan sibuk mengurusi saya. “bang,
jauhkah lagi dari sini masuk ke dalam?” Tanya saya penasaran. “gak de, setengah
jam aja samapai” katanya .
Kami
pun berjalan, menuju pantai tersebut. Jalanannya pun banyak yang sedang di
perbaiki jadi banyak masih lubang-lubang yang ada di sekitaran jalan. Kami
melewati jembatan besar. Karena malam jadi saya tidak tahu, di bawah jembatan
itu air apa. Mungkin itu dari laut piker saya . Ketika sampai pada dua
persimpangan kami pun ambil kanan. Kami menelusuri jalan dengan hati-hati. 15
menit pun berlalu, 30 menit pun berlalu. Namun kami tidak menemukan tanda-tanda
jika ada pantai. Biasanya jika daerah tersebut ada pantainya akan banyak pohon
kelapa di sana. “dek, ini kok gak ada pohon kelapa ya?” Tanya abang yang mulai
khawatir. “Iya eh bang.” Jawab saya sambil memerhatikan sekeliling yang memang
tidak ada tanda-tanda kehidupan pohon kelapa. Jalan yang kami lewati pun
semakin panjang. Banyak sekali tikungan tajam yang kami lewati. “dek kita harus
tanya ini dengan orang” kata abang yang sudah memang khawatir jika kami nyasar.
Sudah malam kami jalannya dan nyasar lagi kan tidak lucu, mungkin seperti itu
pikiran abang. Namun di jalan kita tidak menemukan orang yang dapat di tanyai.
Sampai akhirnya kami melewati jembatan dan sebelum jembatan tersebut saya
melihat ada plang kecil tulisannya Balikpapan. Saya pun juga mulai khawatir
karena yang saya tahu, Samboja bukan bagian dari kota Balikpapan. Setelah
berjalan melewati jembatan tersebut kami bertemu seorang bapak-bapak yang baru
pulang dari masjid. Abang pun bertanya kepada bapak tersebut di mana letak
pantai samboja dan dugaannya benar. Kami salah jalan dan plang yang tadi kami
lewati adalah plang welcome to Balikpapan. “ade kalau mau ke pantai samboja
sudah kelewatan. Arah yang ke depan sana
itu ke Balikpapan. Ade kembali saja dan ikuti aja jalannya lurus saja”
begitu penjelasan bapak tersebut. Syukurlah kami bertemu orang jika tidak
mungkin kami tidak jadi berliburan ke pantai melainkan ke mall dengan dandanan
ala survival. Kami pun berterima kasih dan melanjutkan jalan lagi. Melewati
jalan yang berkelok-kelok lagi dan kami pun terus melanjutkan jalan. Lama kami
mengendarai motor, kaki sudah mulai pegal dan akhirnya kami menemukan tanda-tanda
yang kami cari dari tadi. Dan kami pun menemukan sederetan pohon kelapa. Tidak
jauh kemudian kami menemukan gapura dengan tulisan “Welcome to Samboja”. Rasa lega
pun saya rasakan, namun perjalanan kami belum selesai. Karena takut salah jalan
lagi, abang berhenti dan bertanya lagi pada orang sekitar situ. “iya de, ga
jauh lagi. Seperampat jam haja” begitu ujar ibu-ibu yang abang tanyai khas
dengan logat banjarnya. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Kata ibu itu 15 menit kami sudah sampai, tapi
ternyata setengah jam lebih baru kami menemukan pantai tersebut. “bang ini jar,
seperampat jam” saya pun megikuti logat ibu tersebut yang mengatakan “seperamat
jam”. Iya seperempat jam ibu tersebut dengan seperempat jam kami memang sangat
beda. Abang hanya ketawa dan geleng-geleng ketawa karena mengetahui hal
tersebut. Sesampai di sana saya mulai senang karena mendengar deburan ombak dan
angina yang saya rindukan. Tidak sabarrasakan untuk sampai besok pagi. Agar
bisa bermain air. Sampai di sana kami bangun tenda dan makan makanan yang kami
bawa lalu beristirahat.
Esok
paginya, saya bergegas bangun dan mencari kamar mandi. Kebiasaan saya setiap
pagi adalah ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kamar mandi yang saya temukan
yang pertama kotor dan tidak terpakai. Kamar mandinya menipu, saya kira
pintunya terbuka bisa di gunakan ternyata tidak. Berjalan lagi saya, dan tidak
lama saya menemukan kamar mandi yang kedua, dan ternyata di kunci. Bagaimana
ini jika saya tidak menemukan kamar mandi. Pikir saya dalam hati. Karena saya
tidak ingin buang air kecil sembarang tempat. Dan sampai saya pada kamar mandi
ke tiga, untungnya kamar mandinya tidak terkunci, bersih dan yang lebih penting
lagi ada airnya. Namun dalam kamar mandi tersebut tidak ada penerangannya jadi
di dalamnya gelap, airnya pun tidak seperti air biasa di rumah. Sudahlah saya
tidak peduli dari pada saya harus buang air kecil sembarang begitu pikir saya.
Saat
saya keluar dari kamar mandi, saya melihat ke arah seberang sana. Di mana deburan
ombak terdengar mengajak saya untuk pergi ke sana. Namun ketika akan
menyebranginya saya di halangi oleh lumpur yang harus saya lewati. Sempat saya
berniat tdak akan menyebrang ke sana karena takut kotor. Bayangkan saja air
saja susah bagaimana nanti jika saya kena kotor mau di bersihkan di mana.? Namun
pikiran itu sirna. Dengan segenap niat yang sudah di kumpulkan saya pun
menyebranginya, dengan bersusah ppayah mencari jalan yang lumpurnya tidak
dalam. Dan akhirnya saya sampai pada tempat yang saya mau. Ternyata pantai ini
indah, banyak keong kecil kecil dan kepiting bakau yang masuk ke dalam pasir . Saya
hanya duduk diam menikmati angin yang berhembus dan deburan ombak yang menyapu
pantai.
“de??”
Panggil abang Banyut. Saat saya mennoleh abang sudah berada di belakang saya. Abang
meminta saya untuk tidak bermain jauh-jauh. Deuh abang ini perhatian sekali
dengan adiknya, semana adiknya ini seperti bocah yang akan hilang jika bermain
jauh-jauh. Setelah abang memberi tahu hal tersebut, abang pun meninggalkan saya
sendirian. Kata abang dia ingin kembali tidur lagi. Pantas dia gemuk
kerjaannnya kayak kebo piker saya. Abang Banyut ini memang memiliki postur
badan yang tinggi dan bisa di katakan dia gemuk.
Setelah
merasa abang sudah kembali ke tenda., saya pun mulai menelusuri bibir pantai. Semakin
lama saya berjalan semakin banyak sampah yang saya temuka di pantai tersebut. Bagaimana
bisa orang mengotori pantai dengan sampah sampah mereka ini. Apakah mereka
tidak merasa ingin ke sini agi dalam keadaan bersh atau mereka memang terbiasa
sudah membuang sampah pada sembarang tempat? Entahlah. Rasanya miris sekali
mengetahui pantai yang seharusnya dijaga. Setelah puas berjalan menelusuri
bibir pantai tersebut saya pun kembali ke tenda. Saya bercerita kepada abang
tentang apa yang saya temukan. Abang hanya tertawa karena rata-rata dari sekian
pantai yang dia kunjungi seperti itu lah keadaannya.
Setelah
merasa cukup beristirahat kami pun bersiap untuk kembali pulang. Kami membersihkan
sampah yang ada di sekitar tenda kami. Dan kami pun segera meninggalkan pantai
tersebut karena jarak tempuh yang akan kami lewati jauh. Abang juga memiliki
kegiatan setelah ini.
“de,
masih ingat jalan gak??” Tanya abang.
“bang, kan tadi malam itu tempat kita nyasar itu kana da jembatannya jadi kalau
kita balik ini kita tinggal lurus aja nanti kalau ketemu jembatan baru belok
bang” jelas saya. Hanya itu yang dapat saya ingat dari kejadian tadi malam. Kami
tidak ingin salah arah untuk kedua kalinya lagi. Saat jalan abang mengingatkan
saya agar tidak tertidur saat di perjalanan nanti karena abang takut dia yang
salah ambil jalan. Sebenarnya saya tidak terlalu mengantuk di perjalanan . Namun
terkadang tanpa saya sadari, saya tertidur
dalam keadaan terduduk. Kadang teman saya sampai kesal jika dalam
perjalanan jauh memakai motor saya tertidur di belakang dia. Bagaimana jika
jatuh? Seperti itulah katayang sering
mereka ucapkan. Untung saja abang saya sangat baik. Dia mengizinkan saya untuk
tidur dan dia akan berhati-hati membawa motor.
“duk..dukk...”
Suara motor kami saat berjalan melewati jalanan berbatu. Saya yang sedang tidur
pun sontak kaget dan bangun. Lalu bertanya pada abang apa yang terjadi. Dan abang
memberitahu bahwa tidak apa-apa.
“dek,
kayaknya kuburan ini, kuburan yang tadi malam kita lewati ” tanya abang sambil
mulai mengendarai motor kamai dengan pelan. Saya yang sedang tidak fokus pun
mengtidak kan karena saya tidak ingat apa-apa. Jalan yang kami lewati seperti
familiar. Berkelok-kelok, banyak turunan dan tanjakan yang tajam. Sampai saya
melihat di pinggir jalan ada papan nama dengan bertuliskan “SELAMAT DATANG
DI BALIKPAPAN”. Saya pun meminta abang
untuk berhenti dan ternyata memang benar jalan yang kami lewati adalah jalan
yang tadi malam kami salah arah. Kami hanya bisa tertawa karena yang seharusnya
tidak tersesat lagi malah masih saja tersesat.
Mungkin
abang sedang lelah sehingga tidak dapat mengingat denga jelas jalan mana yang
harusnya kami lewati. Saya hanya dapat tertawa sepanjang jalan. Dan seharusnya
kami bisa keluar lebih cepat tapi ini malah kami lambat 2x lipatnya karena
salah arah lagi. Lucunya lagi ternyata jalan yang seharusnya kami lewati untuk
keluar yaitu jalan yang kami kira salah jalan . Betapa anehnya kami berdua,
jalan yang benar di kata jalan yang salah.
Setelah
kami keluar dari daerah samboja kami pun sempat beristirahat, setelah itu baru
kami melanjutkan perjalanan pulang. Selama perjalanan pulang kami aman-aman
saja, namun saat sudah sampai di kota motor kami oleng. Abang pun berhenti dan
mengecek keadaan motor. Traaanaa ban luar kami pecah, ban dalam bocor dan ini
tanggal tua. Hiks hiks.... Rasanya itu nyesek bagaimana gitu maklum anak kos. Mau
tidak mau kami pun harus ganti ban dimana jarak dengan rumah sudah dekat.
Perjalanan
kali ini, entah bisa dibilang beruntung atau tidak karena perjalanan ini
sangat-sangat banyak kejadian yang tidak terduga duga, tidak disangka-sangka
namun perjalanan ini tetap akan menjadi momen yang indah dan mengasikkan.
Comments
Post a Comment